-->

Kakakku yang Cantik dan Adik Nakal yang saling Bantu membantu

Kakakku yang Cantik dan Adik Nakal yang saling Bantu membantu

Di sebuah perumahan yang tenang, terdapat sebuah rumah yang menjadi pusat "perang dingin" abadi. Di sana tinggallah Rania, seorang mahasiswi tingkat akhir yang kecantikannya setara dengan model iklan sampo, dan adiknya, Dika, bocah SMP yang tingkat kenakalannya setara dengan gabungan sepuluh karakter kartun Shin-chan.


Rania adalah penganut aliran "Estetika adalah Segalanya". Kamarnya wangi aromaterapi, wajahnya selalu glowing, dan feed Instagram-nya sangat rapi. Sementara Dika adalah penganut aliran "Kekacauan adalah Seni". Hobinya adalah membuat eksperimen aneh, seperti mencoba menerbangkan kucing dengan balon gas (yang untungnya digagalkan Rania) atau membuat slime dari campuran pasta gigi dan selai kacang.

Suatu hari, sebuah krisis nasional skala rumah tangga terjadi. Ibu dan Ayah pergi menghadiri pesta pernikahan di luar kota dan baru akan pulang besok pagi. Sebelum pergi, Ibu memberikan mandat suci: "Rania, pastikan rumah rapi karena besok pagi Arisan Keluarga akan diadakan di sini. Dika, jangan berbuat ulah atau PS5 kamu Ibu sita selamanya!"

Masalahnya, Rania baru saja melakukan kesalahan fatal. Saat mencoba membuat konten tutorial masak "Ayam Bakar Estetik", dia tidak sengaja meninggalkan kompor hingga panci kesayangan Ibu gosong hitam pekat, dan asapnya membuat plafon dapur yang putih bersih jadi bernoda abu-abu. Rania panik. Jika Ibu melihat panci legendarisnya hancur dan dapur kotor, jatah uang bulanan Rania untuk beli skincare akan dipotong habis-habisan.

Di saat yang sama, Dika masuk ke dapur dengan wajah pucat. Tangannya memegang remote TV yang sudah terbelah dua. "Kak... tadi gue coba benerin remote pakai bor listrik Ayah karena tombol volumenya macet, eh malah pecah," bisik Dika gemetar.

Dua bersaudara itu saling tatap. Biasanya mereka akan saling mengadu, tapi kali ini mereka sadar bahwa mereka berada di sekoci yang sama yang sedang tenggelam.

Bukan yang ini Yahh...

"Dek," Rania memulai dengan nada diplomatis. "Gue punya concealer mahal yang bisa nutupi jerawat paling bandel di dunia. Tapi gue nggak yakin itu bisa nutupi noda asap di plafon."

Dika berpikir keras, otaknya yang biasa dipakai buat ngerjain orang langsung bekerja cepat. "Kak, kalau soal plafon dan panci, serahin ke gue. Gue punya campuran kimia rahasia dari YouTube buat ngilangin gosong. Tapi syaratnya satu: Lo harus kerjain tugas Bahasa Inggris gue yang disuruh bikin esai 500 kata tentang 'Pentingnya Etika'. Gue nggak punya etika, jadi gue nggak tahu mau nulis apa."

Kesepakatan bersejarah pun tercapai. Aliansi "Si Cantik dan Si Nakal" resmi dibentuk.

Dika langsung beraksi. Dengan gesit dia mengambil baking soda, cuka, dan entah cairan pembersih apa lagi yang dia temukan di gudang. Dia memanjat tangga lipat dengan gaya ninja, menggosok plafon dapur dengan kecepatan cahaya. Ajaibnya, tangan nakal Dika yang biasanya merusak barang, kali ini bekerja sangat presisi. Noda asap menghilang dalam sekejap. Sementara itu, dia merendam panci gosong Ibu dalam ramuan "ajaib" buatannya yang mengeluarkan bau seperti ban terbakar, tapi perlahan-lahan kerak hitamnya mengelupas.

Di ruang tamu, Rania duduk dengan laptopnya. Dia mengetik dengan kecepatan penuh, menyusun esai Bahasa Inggris tentang etika untuk Dika. Tak hanya itu, Rania yang jago dandan menggunakan keahliannya untuk hal tak terduga. Dia mengambil lem tembak dan eyeliner hitam waterproof. Dia menyatukan kembali remote TV Ayah yang pecah, lalu dengan sangat teliti, dia melukis garis-garis sambungannya menggunakan teknik shading make-up hingga bekas retakannya nyaris tak terlihat secara kasat mata.

"Gila, Kak! Remote-nya kelihatan kayak baru lagi!" seru Dika kagum saat melihat hasil kerja kakaknya.

"Panci Ibu gimana?" tanya Rania cemas.

Dika menunjukkan panci itu. Panci yang tadinya menyerupai arang kini berkilau seperti perak baru dibeli. "Gue pakai teknik poles amplas halus yang gue pelajari pas bongkar sepeda tempo hari," lapor Dika bangga.

Namun, drama belum berakhir. Tiba-tiba terdengar suara mobil Ayah di depan rumah. Mereka pulang lebih cepat!

"Amsyong! Mereka pulang!" teriak Dika.

Dengan gerakan sinkron yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, Rania langsung menyemprotkan parfum ruangan mawar mahal ke seluruh dapur untuk menghilangkan bau kimia buatan Dika. Dika melempar tugas esainya ke dalam tas, menyembunyikan remote TV di bawah koran, dan duduk manis di depan buku pelajaran. Rania dengan cepat memoles bibirnya dengan lip gloss dan duduk di sofa sambil pura-pura membaca buku filsafat yang sebenarnya dia gunakan untuk mengganjal meja.

Ibu dan Ayah masuk ke rumah. Ibu langsung menuju dapur. Jantung Rania dan Dika berdegup kencang seperti drum lagu metal.

"Lho, dapur kok wangi sekali? Dan panci ini... kok jadi mengkilap banget? Rania, kamu rajin sekali mencucinya ya?" tanya Ibu takjub.

"Eh... iya Bu, itu tadi Rania pakai teknik double cleansing kayak cuci muka," jawab Rania asal, yang disambut jempol sembunyi-sembunyi dari Dika di balik meja.

Ayah lalu mengambil remote TV. "Kok perasaan remote ini agak lengket ya?" tanya Ayah curiga sambil memperhatikan remote itu dari dekat.

Dika berkeringat dingin. Rania langsung menyambar, "Oh, itu tadi Rania habis pakai hand cream terus pegang remote, Yah. Biar remote-nya nggak kering, eh maksudnya biar awet!"

Ayah hanya menggeleng-geleng heran melihat kelakuan anak gadisnya yang terobsesi pada kelembapan kulit, tapi dia tidak menaruh curiga lebih jauh.

Malam itu, setelah orang tua mereka tidur, Rania dan Dika bertemu di lorong tengah.

"Kita hebat juga ya kalau lagi kepepet," bisik Dika sambil menyeringai nakal.

"Iya, tapi jangan harap gue mau bantuin lo lagi besok kalau lo mecahin barang lagi," balas Rania ketus, meski dia tidak bisa menahan senyumnya.

Dika tertawa kecil. "Tenang Kak, besok gue mau eksperimen bikin roket pakai botol soda. Kalau meledak di taman belakang, lo punya foundation yang cukup banyak kan buat nutupi bekas ledakannya di rumput?"

Rania hanya bisa menepuk jidatnya. Ternyata, memiliki adik nakal memang melelahkan, tapi di saat-saat penuh "dosa" dan kepanikan, kerja sama mereka adalah sebuah mahakarya komedi yang tak ternilai harganya. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing, menyimpan rahasia besar itu rapat-rapat, sampai setidaknya krisis berikutnya melanda.


0 Response to "Kakakku yang Cantik dan Adik Nakal yang saling Bantu membantu"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel