Tutorial Menghabiskan Uang Om dalam 5 Menit: Edisi Bocil Kematian (Yohana)

Tutorial Menghabiskan Uang Om dalam 5 Menit: Edisi Bocil Kematian (Yohana)

Perkenalkan, namaku Yohana. Umurku lima tahun, hobiku bernapas, dan keahlian utamaku adalah membuat Om Doni adik kandung mamaku yang masih lajang dan merasa kaya menjadi miskin dalam waktu singkat. Hari ini, misi suci kami adalah mengunjungi "Kedai Es Krim Pelangi Kebahagiaan".


Om Doni baru saja gajian dan sombongnya sudah menembus lapisan ozon. Dia bilang, "Yohana, pesen apa aja yang kamu mau, Om lagi banyak uang!"

Kesalahan besar, Om. Benar-benar kesalahan fatal.

Inilah tutorial menghabiskan uang Om dalam 5 menit ala Yohana:

Menit ke-1: Strategi "Muka Melas tapi Maruk"

Begitu masuk kedai, aku tidak langsung memesan. Aku berdiri di depan kaca etalase, menempelkan hidungku sampai pesek, lalu menatap deretan es krim dengan pandangan kosong seolah-olah aku belum makan selama tiga periode kepresidenan.

"Yohana, mau rasa apa?" tanya Om Doni sambil menepuk-nepuk dompet kulitnya yang tebal.

Aku menoleh perlahan, mataku berkaca-kaca (ini teknik sad boy tapi versi bocil perempuan). "Om, Yohana bingung. Yohana sayang semua rasa es krimnya. Kalau Yohana cuma pilih satu, nanti rasa yang lain nangis karena nggak ada yang beli. Kasihan mereka kesepian di dalam kulkas dingin itu, Om..."

Om Doni tertawa, "Ya udah, pesen tiga rasa juga boleh."

Tiga rasa? Oh, Om-ku yang polos. Kamu meremehkan kapasitas lambung dan niat jahatku.

Menit ke-2: Pesanan yang Membagongkan

Aku memanggil Mbak penjaga kasir dengan lambaian tangan layaknya seorang ratu.

"Mbak," kataku dengan suara lirih tapi tegas. "Saya mau es krim rasa cokelat, vanila, strawberry, durian, matcha, bubble gum, dan rasa yang pernah ada tapi tiba-tiba hilang. Semuanya dijadikan satu wadah ukuran Giant Jumbo Titanic Edition."

Si Mbak kasir melongo. "Dek, itu wadahnya sebesar ember cat 5 kilo, lho."

"Nggak apa-apa, Mbak. Om saya ini menteri keuangan di rumahnya sendiri," jawabku mantap. Om Doni mulai berkeringat dingin, tapi dia masih berusaha jaga imej di depan Mbak kasir yang cantik.

Menit ke-3: Topping "Doa Restu"


Setelah ember es krim itu terisi, aku masuk ke tahap pemusnahan saldo ATM berikutnya: Topping.

"Mbak, kasih topping kacang, meses, keju, oreo, marshmallow, sereal, buah ceri, dan kalau ada... kasih potongan emas batangan," pintaku polos.

"Emas nggak ada, Dek," kata Mbaknya sambil tertawa getir.

"Ya udah, ganti pakai macaroon sepuluh biji ditancepin di atasnya ya, Mbak. Biar es krimnya kayak punya konde."

Om Doni mulai menghitung jari. Wajahnya yang tadi cerah sekarang mendung seperti mau hujan badai. Di detik ini, es krimku sudah terlihat seperti miniatur Gunung Merapi yang sedang meletus dengan hiasan warna-warni.

Menit ke-4: Tragedi yang Menyedihkan (Tapi Bohong)

Ini adalah puncak drama. Saat aku membawa ember es krim itu menuju meja, aku sengaja melakukan gerakan "akrobatik gagal". Aku pura-pura tersandung bayanganku sendiri.

PYAAARR! (Oke, nggak bunyi pyarr sih, cuma bunyi plok karena es krim lembek).

Satu buah macaroon mahal jatuh ke lantai. Hanya satu. Tapi reaksiku? Aku langsung duduk bersila di lantai kedai, lalu menangis meraung-raung seolah-olah dunia baru saja kiamat.

"HUWAAAA! ES KRIMNYA MENINGGAL DUNIA! OM, LIHAT! DIA JATUH DAN TERLUKA! DIA PASTI SAKIT HATI!" teriakku histeris.


Orang-orang di kedai menatap Om Doni dengan pandangan menghujat, seolah-olah Om Doni baru saja menelantarkan anak yatim piatu di tengah hutan. Om Doni yang panik dan malu tingkat dewa langsung menarikku berdiri.

"Cup, cup, Yohana... Jangan nangis. Kita beli lagi yang baru! Semuanya baru! Jangan sedih ya!"

Target terkunci. Misi berhasil.

Menit ke-5: Pembayaran yang Menguras Air Mata (Dompet)

Kami kembali ke kasir. Pesanan pertama yang "cedera" tadi tetap harus dibayar, dan sekarang kami memesan satu ember lagi dengan spesifikasi yang lebih gila.

Saat Mbak kasir menyebutkan totalnya, "Semuanya jadi tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, Kak."

Om Doni gemetar. Tangannya saat mengeluarkan kartu ATM terlihat seperti sedang memegang granat yang siap meledak. Dia melihat saldo di aplikasi HP-nya, lalu menghela napas panjang seolah sedang melepas masa depannya.

"Om, kok mukanya pucat? Om sakit? Apa mau Yohana beliin es krim lagi biar segar?" tanyaku dengan wajah paling lugu sedunia.


Om Doni cuma tersenyum kecut, senyum yang lebih mirip orang lagi sariawan akut. "Enggak, Yohana... Om cuma lagi mikir, besok Om makan promag aja buat sarapan, makan siang, sama makan malam."

Penutup: Kebahagiaan di Atas Penderitaan

Kami duduk di pojok kedai. Aku dengan bahagianya menjilati es krim raksasa itu, sementara Om Doni hanya memesan air putih gelas plastik sambil memandangi struk pembayaran yang panjangnya mirip ekor layang-layang.

"Om, es krimnya enak banget! Makasih ya Om Doni yang paling ganteng sejagat raya kalau lagi punya uang," kataku sambil belepotan cokelat di pipi.

Om Doni menatapku nanar. "Yohana, lain kali kalau mau tutorial, tutorial cara dapet uang gaib aja ya, jangan tutorial habisin uang Om."

Aku cuma nyengir. Di dalam hati, aku sudah merencanakan tutorial berikutnya untuk minggu depan: "Cara Meminta Ipad Baru dengan Alasan Tugas Mewarnai di Sekolah".

Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

Begitulah kawan-kawan, uang bisa dicari, tapi melihat Om Doni panik sampai mau pingsan di kedai es krim adalah hiburan yang tak ternilai harganya. Sekian tutorial dariku, jangan lupa bawa Om kalian masing-masing, ya!


0 Response to "Tutorial Menghabiskan Uang Om dalam 5 Menit: Edisi Bocil Kematian (Yohana)"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel