Dracil Kematian | Savage Kagak, Report Iya: Kisah Bocil Noob yang Merasa Pro Player
Savage Kagak, Report Iya: Kisah Bocil Noob yang Merasa Pro
Dimas adalah seorang bocil berusia 10 tahun yang memiliki cita-cita setinggi langit: menjadi Pro Player e-sport. Sayangnya, antara cita-cita dan realita berbanding terbalik sejauh jarak Bumi ke Pluto. Di lingkungan perumahannya, Dimas dikenal sebagai "Beban Tim Abadi". Jika ada Dimas di dalam tim, maka persentase kemenangan tim tersebut akan turun drastis menjadi 0,001%.
Dimas bermain menggunakan HP kentang yang layarnya sudah retak seribu seperti peta harta karun. Namun, "senjata" paling menyedihkan miliknya adalah headset-nya. Itu bukan headset gaming, melainkan headset hadiah deterjen yang kabelnya sudah disambung-sambung pakai isolasi hitam dan karet gelang. Untuk mendapatkan suara, Dimas harus memiringkan kepalanya 45 derajat ke kiri dan menggigit kabelnya sedikit. Kalau tidak, suaranya hanya akan terdengar seperti radio rusak di dalam air.
"Tenang teman-teman, hari ini aku akan Savage!" seru Dimas di sela-sela mabar (main bareng) di pos ronda.
Teman-temannya, roni dan Eko, hanya menghela napas. "Dim, mending kamu jaga kandang aja. Jangan feeder lagi," keluh Roni.
Benar saja, baru main dua menit, karakter Dimas sudah mati lima kali. Alasan Dimas selalu sama: "Aduh, tadi suaranya nggak kedengeran! Aku kira musuhnya di rumput, ternyata di belakangku!" Padahal, headset-nya memang sedang kumat, hanya mengeluarkan suara kresek-kresek seperti orang lagi goreng kerupuk.
Suatu sore, seorang pemuda kaya bernama Bang Andre, yang baru pulang dari kota membawa laptop gaming dan headset mahal senilai lima juta rupiah, duduk di pos ronda. Melihat Dimas yang frustrasi sampai mau menangis karena kalah sepuluh kali berturut-turut, Bang Andre merasa iba.
"Dim, nih, cobain pake headset Abang. Ini namanya headset 7.1 Surround Sound. Kamu bisa denger langkah semut dari jarak dua kilometer," canda Bang Andre sambil memakaikan headset besar yang lampunya kedap-kedip warna-warni (RGB) ke kepala mungil Dimas.
Begitu headset itu terpasang, mata Dimas langsung berbinar. "Wih... suaranya jernih banget, Bang! Kayak denger malaikat lagi nyanyi!"
Dimas pun memulai pertandingan baru. Keajaiban terjadi. Dengan headset mahal itu, Dimas bisa mendengar suara langkah musuh dengan sangat presisi. Dia tiba-tiba menjadi sangat lincah. Dia menghindar, menyerang, dan melakukan triple kill!
"Woy! Aku pro! Aku pro player!" teriak Dimas histeris. Air mata haru menetes di pipinya. Dia merasa selama ini dia tidak noob, dia hanya "kurang fasilitas". Teman-temannya melongo melihat Dimas yang biasanya jadi bulan-bulanan kini menggendong tim. Dimas merasa seperti pahlawan yang baru saja bangkit dari kegelapan.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan 15 menit. Bang Andre harus pergi karena dipanggil ibunya untuk makan malam.
"Dim, Abang balik dulu ya. Sini headset-nya," kata Bang Andre.
Dimas melepaskan headset itu dengan berat hati. Dunianya serasa runtuh. Dia kembali memakai headset karet gelangnya yang baunya seperti minyak kayu putih.
"Nggak apa-apa," gumam Dimas dengan penuh percaya diri. "Ilmu pro player-nya sudah meresap ke jiwaku. Headset cuma alat, skill adalah abadi!"
Dimas langsung memencet tombol Ranked Match. Dia ingin membuktikan bahwa dia sudah berevolusi. Dia memilih karakter pembunuh (Assassin) yang paling sulit digunakan. Di dalam pikirannya, dia adalah bayangan yang tak terlihat, eksekutor yang mematikan.
Pertandingan dimulai. Dimas mencoba menggunakan insting yang baru dia dapatkan dari headset mahal tadi. Karena headset lamanya mati total di sebelah kanan, Dimas memutuskan untuk "menggunakan insting". Dia memejamkan mata, mencoba merasakan getaran HP-nya.
"Aku bisa merasakannya... musuh ada di kanan!" teriak Dimas dengan gaya sok keren.
Dia langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya (Ultimate) ke arah kanan dengan penuh tenaga. BOM!
Sayangnya, "kanan" yang dimaksud Dimas ternyata adalah tembok kosong. Karakter Dimas malah terjebak di dalam wilayah musuh tanpa perlindungan. Dia berdiri diam di tengah jalan, mencoba memutar-mutar kabel headset-nya karena tiba-tiba terdengar suara dangdutan dari frekuensi radio tetangga yang bocor ke headset-nya.
"Lho, kok musuhnya nyanyi 'Kopi Dangdut'?" gumam Dimas bingung.
Karena asyik memutar kabel, dia tidak sadar musuh sudah berkumpul di sekelilingnya. Karakter Dimas dikeroyok habis-habisan. Dia mati. Dia hidup lagi, lalu mati lagi. Begitu terus sampai sepuluh kali.
Teman satu timnya mulai "toxic" di kolom chat.
User1: "Woy Assassin bocil! Main pake mata, jangan pake dengkul!"
User2: "Ini orang main sambil tidur apa gimana sih? Lari ke arah tembok terus!"
User3: "Report nih bocil, bikin turun bintang aja!"
Dimas panik. Dia mencoba memperbaiki posisi headset-nya, tapi saking semangatnya, kabel headset itu malah tersangkut di kancing bajunya. Saat dia mencoba menarik kabelnya, HP-nya malah ikut terbang dan jatuh tepat ke dalam kaleng bekas cat yang berisi air hujan di bawah pos ronda. PLUNG!
Dimas terdiam. Teman-temannya terdiam. Layar HP-nya redup, lalu mati total sambil mengeluarkan bunyi bzzzt... terakhir.
Keesokan harinya, Dimas datang ke pos ronda bukan untuk mabar, tapi untuk curhat sambil menangis sesenggukan. "Aku sebenernya pro, Bang... sumpah... tapi headset-ku kuwalat karena aku sombong," isaknya.
Eko menepuk pundak Dimas. "Udah Dim, jangan nangis. Kamu emang dapet Savage kok."
Dimas berhenti menangis, matanya berbinar. "Beneran? Kapan?"
"Bukan Savage di game, tapi Savage dimarahin emakmu gara-gara HP-mu nyemplung cat, kan?" goda Eko.
Dimas langsung teringat bagaimana semalam ibunya mengejarnya keliling kampung bawa sapu lidi karena HP hadiah ulang tahunnya rusak total. Dimas pun tersenyum kecut sambil mengusap ingusnya.
"Iya sih... tapi setidaknya aku pernah merasakan jadi pro player selama 15 menit," kata Dimas sambil memasang headset karet gelangnya di leher, bergaya seolah itu adalah medali kemenangan, padahal suaranya saja sudah tidak ada.
Ujung-ujungnya, Dimas tidak lagi main game. Dia sekarang sibuk membantu ibunya jualan gorengan untuk ganti rugi HP. Ironisnya, dia tetap memakai headset rusak itu saat jualan.
"Kenapa masih dipake, Dim? Kan mati?" tanya Bang Andre suatu hari.
Dimas menjawab dengan polos sambil membolak-balik bakwan, "Biar kelihatan pro, Bang. Kalo ada yang beli gorengan nggak bayar, tinggal aku bilang: Maaf, nggak denger, lagi dengerin langkah musuh!"
Premium Mystery Box
Bang Andre hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat bocil ajaib itu tetap percaya diri meski nasibnya selalu apes. Savage kagak, report iya, ganti rugi HP jalan terus!




0 Response to "Dracil Kematian | Savage Kagak, Report Iya: Kisah Bocil Noob yang Merasa Pro Player"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "