-->

Cerita Wanita Cantik Hamil Tua pertama malah ngidam Pare dan Timun

 Cerita Wanita Cantik Hamil Tua pertama malah ngidam Pare dan Timun

Siska adalah definisi dari wanita sempurna di Kompleks Permata Hijau. Mantan peraga busana ini tetap terlihat menawan meski usia kehamilannya sudah menginjak sembilan bulan. Perutnya yang membuncit justru membuatnya terlihat seperti dewi kesuburan versi modern. Biasanya, Siska hanya mengonsumsi salad quinoa, jus kale, dan air alkali. Namun, saat hamil anak pertama ini, semua standar gaya hidup sehat nan estetis itu mendadak runtuh berkeping-keping.


Suaminya, Anton, seorang manajer bank yang biasanya rapi dan tenang, kini sering terlihat linglung. Penyebabnya cuma satu: ngidam istrinya yang semakin hari semakin "gelap".

Malam itu, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Siska tiba-tiba duduk tegak di tempat tidur, mengguncang bahu Anton dengan tenaga yang mengejutkan untuk ukuran wanita hamil.

"Mas... Mas bangun. Aku mau Pare," bisik Siska dengan suara serak yang dramatis.

Anton mengerjap-erjap. "Pare? Salad pare yang di resto organik itu, Sayang?"

Siska menggeleng kuat-kuat. "Bukan! Aku mau pare yang paling pahit, yang bintil-bintilnya besar dan menyeramkan. Aku mau makan mentah-mentah pakai sambal terasi yang bau busuknya tercium sampai ke kecamatan sebelah!"

Anton menelan ludah. "Tapi Sayang, ini jam dua pagi. Di mana aku cari pare yang 'menyeramkan'?"

"Aku nggak mau tahu! Dan satu lagi, Mas... aku mau Timun. Tapi bukan timun biasa. Aku mau timun yang besarnya seukuran lengan petinju. Timun raksasa!"

Demi cinta dan demi menghindari tangisan histeris istrinya, Anton berangkat ke pasar induk. Setelah berjuang di antara tumpukan sayur dan aroma pasar yang menyengat, ia pulang membawa satu kantong penuh pare hijau tua yang terlihat sangat sangar dan tiga buah timun yang ukurannya memang tidak masuk akal—lebih mirip gada perang daripada sayuran.

Sesampainya di rumah, Anton mendapati Siska sudah menunggu di meja makan dengan daster sutranya, namun tangannya sudah memegang cobek berisi sambal terasi yang aromanya sanggup mengusir roh halus.


"Ini dia... cantik sekali," gumam Siska sambil membelai pare itu seolah-olah itu adalah tas merek Hermes edisi terbatas.

Tanpa dicuci (karena katanya vitaminnya ada di debu pasar), Siska langsung menggigit pare mentah itu. KRRRUK! Suara kunyahannya menggema di dapur yang sunyi. Anton meringis, membayangkan rasa pahit yang meledak di mulut istrinya. Namun, Siska justru memejamkan mata dengan raut wajah penuh kenikmatan, seolah baru saja memakan cokelat Belgia yang paling mahal.

"Pahitnya... ah, sangat jujur. Mas mau?" tawar Siska sambil menyodorkan pare yang sudah berlumuran sambal terasi.

"Enggak, Sayang. Mas... Mas masih ingin hidup," jawab Anton gemetar.

Siska kemudian beralih ke timun raksasa itu. Ia tidak memotongnya. Ia memegang timun itu dengan kedua tangan dan mulai memakannya dengan gaya seperti orang makan jagung bakar.

Keesokan harinya, keanehan ini berlanjut. Siska menolak keluar rumah tanpa membawa "Timun Keamanan"-nya. Ketika mereka harus kontrol ke dokter kandungan, Siska bersikeras memasukkan satu timun raksasa ke dalam tas branded-nya. Ujung timun itu menyembul keluar, membuat orang-orang di ruang tunggu rumah sakit menatapnya dengan penuh tanda tanya.

Di ruang dokter, dr. Surya yang biasanya serius hampir saja menjatuhkan pulpennya melihat Siska masuk sambil mendekap pare seperti mendekap boneka.

"Ibu Siska, apa kabar? Wah, perutnya sudah turun, ya. Ada keluhan?" tanya dr. Surya sambil berusaha tetap profesional.

"Dokter, kenapa pare ini terasa lebih manis daripada janji-janji manis Mas Anton?" tanya Siska tiba-tiba sambil mengacungkan parenya.

Anton hanya bisa menutupi wajahnya dengan telapak tangan, sementara dr. Surya berdeham canggung. "Mungkin itu pengaruh hormon, Bu. Tapi, bicara soal nutrisi, pare memang sehat, meski kalau mentah dan sebanyak itu... ya, lambung Ibu harus kuat."

Puncaknya terjadi saat Siska tiba-tiba merasa mulas di tengah pusat perbelanjaan. Orang-orang berkerumun ingin menolong wanita cantik yang tampak kesakitan itu. Namun, bukannya mencari pegangan pada Anton, Siska malah mengeluarkan timun raksasanya dari tas dan memegangnya erat-erat seolah itu adalah tongkat ajaib.

"Jangan sentuh saya! Saya cuma butuh timun ini!" teriak Siska saat satpam mencoba mendekat.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, di dalam mobil, Siska masih sempat-sempatnya mengunyah sisa pare terakhirnya. "Mas, nanti kalau bayinya lahir, kasih nama 'Parennita' atau 'Timunthy' ya?"

Anton hanya bisa pasrah. "Apapun, Sayang. Apapun, asal setelah ini kita kembali makan nasi goreng biasa."

Begitu sampai di ruang persalinan, suasananya sangat kacau namun lucu. Siska menolak mengejan jika timun raksasanya tidak diletakkan di samping kepalanya. Para perawat harus menahan tawa melihat seorang wanita cantik yang tampak seperti model internasional, berjuang melahirkan sambil sesekali menggumamkan kata "pahit" dan "segar".

Akhirnya, seorang bayi laki-laki tampan lahir dengan selamat. Saat tangisan bayi pecah, Siska menghela napas lega. Ia melirik Anton, lalu melirik timun dan pare yang tersisa di meja samping tempat tidur.

"Mas..." panggil Siska lemah.

"Iya, Sayang? Kamu mau pare lagi?" tanya Anton sigap.

Siska memasang wajah jijik. "Ih, kamu gila ya? Siapa yang mau makan pare mentah pahit begitu? Baunya aja bikin mual! Mas bawa sana, jauh-jauh! Aku mau steak wagyu sama es krim stroberi!"


Anton melongo. Ngidam ajaib itu menghilang seketika bersamaan dengan lahirnya sang bayi. Ia melihat tumpukan pare dan timun besar di depannya, lalu melihat tagihan rumah sakit, dan akhirnya melihat anaknya.

"Nak," bisik Anton pada bayinya, "nanti kalau sudah besar, tolong jangan cari istri yang hobi makan pare mentah jam dua pagi ya. Papa nggak kuat."

Dan di pojok ruangan, timun raksasa itu tergeletak kesepian, menjadi saksi bisu perjuangan seorang ayah melawan aroma terasi dan pahitnya sayuran demi sang buah hati.

0 Response to "Cerita Wanita Cantik Hamil Tua pertama malah ngidam Pare dan Timun"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel