Anisa si Nona Kecil yang Tak Gentar Memadamkan Kebakaran Api di Kandang Ayam Kakeknya
Anisa si Nona Kecil yang Tak Gentar Memadamkan Kebakaran Api di Kandang Ayam Kakeknya
Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seorang gadis kecil bernama Anisa. Umurnya baru jalan enam tahun, tapi imajinasinya sudah setinggi langit ke tujuh. Bagi Anisa, dunia adalah medan tempur dan dia adalah pahlawan supernya. Hari itu, Anisa sedang dititipkan di rumah Kakeknya, Kakek Sugiono, seorang pensiunan yang lebih banyak menghabiskan waktu berbicara dengan tanaman cabainya daripada dengan manusia.
Kakek sedang pergi ke kebun belakang untuk memanen singkong, meninggalkan Anisa yang sedang mengenakan kostum "kebanggaannya": helm proyek plastik berwarna kuning yang terlalu besar (warisan peninggalan renovasi dapur), kacamata renang berwarna pink neon, dan serbet makan merah yang diikatkan di leher sebagai jubah.
"Lapor! Komandan Anisa siap berpatroli!" teriaknya pada seekor kucing yang sedang asyik menjilat kaki.
Keadaan berubah tegang ketika Anisa melihat gumpalan asap tipis mengepul dari arah kandang ayam di samping rumah. Sebenarnya, itu hanyalah tumpukan jerami kering yang mulai membara karena terkena pantulan cahaya matahari dari pecahan botol kaca di dekatnya. Apinya kecil, hanya seukuran piring makan, tapi di mata Anisa, itu adalah "Naga Api yang siap melahap seluruh peradaban ayam!"
"Darurat! Kode Merah! Naga api menyerang markas Si Jago!" Anisa berteriak panik namun tetap berusaha terlihat gagah.
Langkah pertama yang dilakukan Anisa bukannya memanggil orang dewasa, melainkan mengambil pistol air mainannya yang berbentuk lumba-lumba. Dengan langkah seribu, ia berlari ke arah kandang ayam. "Jangan takut rakyatku!" teriaknya pada sepuluh ekor ayam yang sebenarnya sedang asyik mematuk dedak dan sama sekali tidak sadar ada api di pojokan.
Croot! Croot! Anisa menembakkan air dari pistol lumba-lumbanya. Tentu saja, air yang keluar hanya seiprit, tidak lebih banyak dari air liur orang bersin. Api itu bukannya mati, malah seolah mengejek dengan mengeluarkan bunyi cesss pelan.
"Oh, kau menantangku, ya?" Anisa berkacak pinggang. "Baiklah, saatnya menggunakan senjata rahasia!"
Anisa berlari ke arah sumur. Ia melihat ember besar, tapi ia tahu ia tak kuat mengangkatnya. Kepolosannya membimbingnya ke arah dapur. Ia mengambil deterjen bubuk milik nenek dan sebotol besar sabun cuci piring. Logika Anisa sederhana: "Kalau tangan kotor saja bersih pakai sabun, api yang kotor juga pasti hilang kalau pakai sabun banyak-banyak!"
Ia mencampurkan deterjen itu ke dalam ember kecil berisi sedikit air, lalu mengaduknya sampai berbusa melimpah. Dengan penuh perjuangan, ia menyeret ember itu ke kandang ayam. Sesampainya di sana, ia tidak langsung menyiramkannya. Ia malah mengambil sapu lidi.
"Rasakan ini, Naga Api!" Anisa mencelupkan sapu lidi ke air sabun dan mulai mengibas-ngibaskannya ke arah api. Bukannya padam, yang terjadi malah hujan busa di mana-mana. Ayam-ayam yang tadi tenang mulai panik karena mata mereka kelilipan busa sabun. Kandang ayam itu kini lebih mirip tempat pesta busa (foam party) daripada tempat kejadian perkara kebakaran.
"Ayo lari! Evakuasi mandiri!" teriak Anisa sambil mencoba menangkap Si Jago, ayam jago paling besar, untuk "diselamatkan". Namun, karena tangannya penuh sabun dan licin, Si Jago berkali-kali merosot dari pelukannya seperti sabun batangan. Anisa terpeleset busanya sendiri, jatuh terduduk dengan bunyi pluk, tapi helm kuningnya tetap kokoh menutupi sampai ke hidungnya.
Tepat saat itu, Kakek Sugiono pulang dari kebun dengan menggendong sekarung singkong. Ia terbelalak melihat pemandangan di depannya: kandang ayamnya penuh busa putih, cucunya memakai helm kuning yang miring dan kacamata renang, sedang bergulat dengan ayam jago yang badannya penuh busa, sementara api kecil di pojokan masih asyik berasap.
"Astaga, Anisa! Kamu lagi bikin kue di kandang ayam atau apa?" tanya Kakek bingung campur mau tertawa.
"Kakek! Cepat! Naga Api menyerang! Anisa sudah melumuri mereka dengan racun busa agar tidak dimakan naga!" teriak Anisa dengan wajah serius tanpa dosa.
Kakek Sugiono tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. "Itu bukan naga, Sayang. Itu cuma jerami kepanasan."
Kakek dengan santai mengambil ember berisi air bersih (tanpa sabun), lalu byuurrr! Sekali siram, api itu padam seketika. Anisa melongo.
"Kok apinya langsung mati, Kek? Dia takut sama Kakek ya?" tanya Anisa takjub.
"Bukan takut sama Kakek, tapi apinya takut sama air yang nggak pakai sabun cuci piring," goda Kakek sambil membantu Anisa berdiri.
Anisa mengangguk-angguk sok paham. "Oh, jadi naga api itu alergi air bening ya, Kek? Baiklah, catat itu dalam buku laporan pahlawan!"
Kakek kemudian membantu Anisa membilas ayam-ayam yang penuh busa. Si Jago tampak sangat bersih dan wangi bunga lavender, mungkin itu adalah ayam paling higienis di seluruh desa. Meskipun bajunya basah kuyup dan penuh busa, Anisa tersenyum bangga. Ia merasa telah berhasil menyelamatkan dunia atau setidaknya, menyelamatkan ayam-ayam Kakek dari bahaya "kurang mandi".
Premium Mystery Box
Sore itu ditutup dengan mereka bertiga (Anisa, Kakek, dan Si Jago yang wangi) duduk di teras sambil makan singkong rebus. Anisa berjanji pada Kakek, "Besok kalau ada kebakaran lagi, Anisa nggak pakai sabun, Kek. Anisa bakal pakai kecap, biar naganya jadi ayam bakar!"
Kakek hanya bisa geleng-geleng kepala, tertawa melihat keluguan cucu kecilnya yang tak gentar menghadapi "naga" demi keselamatan seekor ayam.




0 Response to "Anisa si Nona Kecil yang Tak Gentar Memadamkan Kebakaran Api di Kandang Ayam Kakeknya"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "