Cewek Osis Suka Jajan Pentol Cilok digodain Kang Cilok
Cewek Osis Suka Jajan Pentol Cilok digodain Kang Cilok
Di SMA Tunas Bangsa, nama Reva dikenal sebagai "Macan OSIS". Jabatan Sekretaris Umum membuatnya tampil sebagai sosok yang disiplin, perfeksionis, dan selalu rapi. Seragamnya selalu disetrika licin, dasinya tegak lurus, dan tatapannya bisa membuat adik kelas yang telat langsung pura-pura pingsan. Namun, di balik topeng kewibawaan itu, Reva punya satu kelemahan fatal: Pentol Cilok Mang Ujang.
Sore itu, setelah rapat program kerja yang melelahkan, perut Reva mulai berdemo. Suara keroncongannya bahkan lebih keras daripada interupsi anggota OSIS lainnya. Begitu rapat bubar, Reva bukannya pulang, malah mengendap-ngendap ke pagar belakang sekolah yang berlubang sedikit. Di sana, sudah nangkring gerobak legendaris "Cilok Cinta Mang Ujang".
"Pst! Mang! Mang Ujang!" bisik Reva sambil menoleh ke kanan-kiri, memastikan tidak ada siswa lain yang melihat sang 'Macan OSIS' sedang berburu jajanan kaki lima.
Mang Ujang, pria paruh baya yang humoris dan hobi pakai topi miring, menoleh sambil nyengir. "Ealah, Neng Reva. Kirain siapa tadi bisik-bisik, kirain intel. Mau operasi tangkap tangan cilok ya?"
"Ssst! Jangan kenceng-kenceng Mang! Saya pesan lima ribu, bumbu kacangnya yang banjir, sausnya dikit, sambalnya yang bikin lambung teriak," perintah Reva dengan nada tegas layaknya memberi instruksi pada bawahannya.
Mang Ujang mulai beraksi dengan lincah. Sambil menusuk-nusuk cilok, ia mulai mengeluarkan jurus andalannya: menggoda pelanggan favoritnya itu. "Siap, Ibu Komandan. Ini ciloknya spesial buat Neng Reva. Tahu nggak kenapa cilok ini kenyal?"
Reva yang sedang fokus memantau situasi agar tidak terciduk guru, menjawab asal, "Ya karena pakai tepung kanji lah, Mang."
"Salah!" Mang Ujang menggeleng dramatis. "Kenyal karena dia rindu sama gigi Neng Reva. Setiap kali Abang bikin bulat-bulat, Abang selalu bayangin wajah Neng yang lagi galak di rapat. Jadi ciloknya bergetar-getar penuh cinta."
"Hih! Mang Ujang apaan sih! Jangan mulai deh, ngeri saya dengernya," sahut Reva sambil menahan senyum. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan gombalan 'garing' Mang Ujang, tapi entah kenapa sore itu rasanya lebih lucu karena ia sedang merasa stres.
"Neng Reva ini kalau lagi ngumpet gini makin manis deh. Kayak pentol puyuh, luarannya polos, dalamnya ada isinya. Isinya apa? Isinya perasaan Abang yang tak tersampaikan," lanjut Mang Ujang sambil menuangkan bumbu kacang dengan gerakan estetis bak koki bintang lima.
Saat Reva sedang tertawa kecil mendengar ocehan Mang Ujang, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu pantofel dari arah belakang. Tak! Tak! Tak!
Reva membeku. Itu suara langkah Pak Sugeng, guru kesiswaan paling killer se-alam semesta. Reva langsung panik. Ia tidak mungkin lari lewat pagar karena Pak Sugeng sudah dekat. Tanpa pikir panjang, ia langsung jongkok di balik gerobak Mang Ujang yang bau bumbu kacang.
"Mang, sembunyiin saya! Kalau ditanya, bilang nggak ada siapa-siapa!" bisik Reva dengan suara gemetar.
Tak lama kemudian, Pak Sugeng sampai di depan gerobak. "Mang Ujang, lihat siswi pakai seragam OSIS lewat sini nggak? Tadi saya lihat dari jauh ada penampakan pita rambut merah di sini."
Mang Ujang tetap tenang, malah makin bersemangat menggoda situasi. "Waduh Pak Sugeng, jam segini mah penampakan mahkluk halus banyak, Pak. Tapi kalau siswi OSIS... hmm, tadi sih ada yang pesan cilok, tapi orangnya mendadak berubah jadi kucing terus lompat pagar."
"Kamu bercanda saja, Mang," sahut Pak Sugeng curiga. Matanya melirik ke bawah gerobak.
Reva di balik gerobak sudah berkeringat dingin. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia harus pidato di depan bupati. Di saat kritis itu, tiba-tiba satu buah cilok yang belum sempat dibungkus jatuh dari meja gerobak tepat ke atas hidung Reva yang sedang mendongak sedikit.
Reva kaget setengah mati, tapi ia harus diam. Cilok yang masih hangat dan berlumuran saus itu nangkring dengan manis di ujung hidungnya. Bau bawang putih yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Reva ingin bersin. Ia menahan sekuat tenaga. Hhh... hhh...
"Mang, itu apa di bawah gerobak? Kok ada bunyi napas berat?" tanya Pak Sugeng curiga.
Mang Ujang dengan sigap langsung bernyanyi keras-keras untuk menutupi suara Reva. "CILOK... CILOK APA YANG BIKIN SEDIH? CILOK-PUN AKU TAK MAMPU MEMILIKIMU!"
Pak Sugeng geleng-geleng kepala. "Kamu ini makin tua makin aneh, Mang. Ya sudah, saya balik ke kantor."
Begitu langkah Pak Sugeng menjauh, Reva langsung berdiri dengan wajah merah padam. Dan jangan lupa, ada cilok yang masih menempel di hidungnya karena lengket terkena saus.
Mang Ujang meledak dalam tawa. "BWAHAHAHA! Neng Reva! Itu... itu di hidung Neng ada aksesoris baru ya? Tren OSIS tahun depan?"
Reva baru sadar. Ia mengambil cilok dari hidungnya dan melihatnya dengan tatapan nanar. "Mang Ujang! Gara-gara Mang Ujang nih saya hampir kena serangan jantung!"
"Loh, kok Abang yang disalahin? Itu namanya 'Cilok Takdir', Neng. Dia mau minta cium duluan sama Neng Reva," goda Mang Ujang sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
Reva yang tadinya ingin marah, malah ikut tertawa cekikikan. Ia membayangkan betapa konyolnya jika Pak Sugeng melihat Sekretaris OSIS paling disiplin sedang jongkok dengan cilok menempel di hidung seperti badut.
"Udah ah Mang, ini uangnya. Simpan kembaliannya buat beli obat waras!" kata Reva sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.
"Makasih Neng Cantik. Besok mampir lagi ya? Nanti Abang buatin cilok bentuk hati, khusus buat penyejuk hati Neng yang gersang karena kebanyakan nulis proposal," teriak Mang Ujang saat Reva mulai lari menjauh.
Reva hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, sambil sesekali mengelap sisa saus di hidungnya. Sore itu, sang Macan OSIS belajar satu hal: seberat apa pun beban jabatan di sekolah, semuanya bisa luntur hanya dengan sebungkus cilok dan godaan maut dari tukang jualan yang lebih jago gombal daripada anak SMA. Dan yang pasti, ia akan merindukan 'Cilok Takdir' itu besok sore.


0 Response to "Cewek Osis Suka Jajan Pentol Cilok digodain Kang Cilok"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "