Misi Sultan Cilik: Borong Es Krim Berujung Operasi Cuci Piring

 Misi Sultan Cilik: Borong Es Krim Berujung Operasi Cuci Piring

Pagi itu, Kevin seorang bocah berusia 8 tahun yang merasa dirinya adalah titisan influencer papan atas sedang duduk bersila di depan kipas angin. Rambutnya yang bergaya undercut ala-ala artis Korea tampak berkibar tertiup angin sepoi-sepoi dari baling-baling plastik yang berdebu.

"Pap, hari ini cuacanya panas banget, ya? Vibes-nya nggak enak buat kesehatan mental. Kita butuh self-healing," ucap Kevin dengan nada serius, matanya tak lepas dari layar HP yang menampilkan video orang makan es krim viral.


Pak Bambang, ayahnya, yang sedang asyik menyeruput kopi sambil membetulkan sarungnya, hanya melirik. "Self-healing apa toh, Vin? Kamu itu baru kelas 2 SD, tugasmu cuma belajar sama jangan ngompol. Healing-healing apa?" C30082026 dan Precil30082026

"Ih, Papa ketinggalan zaman! Kita harus ke kedai es krim 'Artisan Gelato Sultan' yang lagi viral itu. Katanya kalau makan di sana, khodam kita jadi wangi stroberi. Ayo Pap, gas! Minimal checkout kebahagiaan hari ini," bujuk Kevin sambil melakukan gerakan dance TikTok yang patah-patah.

Karena malas berdebat dan kebetulan baru saja gajian (meskipun sudah dipotong cicilan panci istrinya), Pak Bambang akhirnya setuju. "Ya sudah, ayo. Tapi jangan aneh-aneh ya!"

Sesampainya di kedai es krim yang estetikanya melampaui batas kewajaran itu, Kevin langsung beraksi. Dia masuk dengan gaya cool, kacamata hitam nangkring di hidungnya, meskipun berkali-kali ia tersandung kabel karena kacamatanya terlalu gelap.

"Mbak, saya mau pesan yang paling Gokil," ujar Kevin kepada pelayan yang bingung.

"Maksudnya dik, rasa apa?" tanya mbaknya sabar.


"Saya mau 'Midnight Charcoal with Gold Flakes', 'Unicorn Tears Syrup', 'Durian Musang King Wrapped in Seaweed', sama... oh! 'Spicy Chocolate Mental Health Edition'. Semuanya ukuran Super Large Mega Mendung. Satu lagi, topping-nya pake keju yang diparut langsung dari Swiss ya Mbak," kata Kevin dengan wajah tanpa dosa.

Pak Bambang yang berdiri di belakang Kevin cuma bisa melongo. "Vin, itu es krim apa sesajen? Banyak banget!"

"Tenang Pap, ini buat konten. Nanti Papa aku tag di Instagram, biar Papa dibilang Hot Daddy yang royal," bisik Kevin meyakinkan. Pak Bambang pun luluh, membayangkan dirinya jadi idola ibu-ibu komplek.

Pesanan pun datang. Meja mereka penuh dengan gundukan es krim berbagai warna yang lebih mirip pajangan museum daripada makanan. Kevin sibuk memotret dari berbagai sudut. "Jangan dimakan dulu Pap! Belum dapet lighting yang pas. Aduh, ini es krimnya nggak kooperatif banget sih, masa meleleh sebelum viral!" keluh Kevin.

Setelah 15 menit sesi pemotretan, mereka pun makan. Namun, baru suapan ketiga, Pak Bambang sudah merasa perutnya bergejolak. "Vin, ini es krim arang (charcoal) rasanya kayak ban bekas dibakar ya?"

"Papa nggak paham seni kuliner! Ini namanya rasa eksotis," jawab Kevin, padahal dia sendiri sudah mulai mual karena rasa cokelat pedas yang bercampur durian.

Tibalah saat yang paling mendebarkan: Pembayaran.


Pelayan datang membawa struk panjang. "Totalnya jadi delapan ratus lima puluh ribu rupiah, Pak."

Mendengar angka itu, kopi di perut Pak Bambang rasanya ingin meloncat keluar. "Berapa?! Mbak, saya beli es krim, bukan beli saham kedai ini!"

"Maaf Pak, emas 24 karat di atas es krimnya emang agak mahal, ditambah biaya service 'Aura Estetik' kedai kami," jelas si Mbak dengan senyum profesional.

Pak Bambang dengan gemetar merogoh kantong celananya. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mulai terkelupas. Kosong. Hanya ada struk minimarket minggu lalu dan satu lembar uang lima puluh ribu yang sudah lecek parah.

"Waduh Mbak... saya pikir harganya standar es krim cone di pinggir jalan," bisik Pak Bambang berkeringat dingin. Dia menoleh ke Kevin. "Kevin! Kamu katanya punya tabungan di celengan ayam, mana?"

Kevin yang tadinya bergaya sultan, mendadak berubah jadi rakyat jelata yang tertindas. "Anu Pap... tabunganku udah aku pake buat beli skin Mobile Legends kemarin... Hehe, sorry Pap, tidak sesuai ekspektasi ya?"

Suasana mendadak hening dan menyedihkan. Musik lo-fi di kedai itu seolah-olah berubah menjadi lagu pengiring pemakaman bagi harga diri Pak Bambang. Orang-orang di sekitar mulai melirik. Pak Bambang mencoba membuka aplikasi M-Banking di HP-nya.


"Sinyalnya muter-muter terus, Mbak! Aduh, ini loading-nya kayak nunggu jodoh!" seru Pak Bambang panik. Setelah berhasil masuk, matanya terbelalak melihat saldo: Rp 12.500.

"Vin, kita tamat. Papa lupa kalau uang gajian sudah ditarik Mama buat bayar cicilan kulkas," bisik Pak Bambang dengan nada menangis tanpa air mata.

Kevin, yang tidak mau kehilangan muka di depan followers-nya yang cuma lima orang (termasuk akun jualan peninggi badan), mencoba bernegosiasi. "Mbak, gimana kalau saya bayar pake exposure? Saya punya followers lima orang, lho. Kalau saya posting, kedai ini pasti... makin sepi eh, maksudnya makin ramai!"

Si Mbak pelayan cuma menggeleng. "Mohon maaf dik, bos kami nggak makan exposure, dia makan nasi padang."

Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan penuh rasa malu, Pak Bambang memberikan jaminan. Bukan KTP, bukan kunci motor (karena motornya juga masih cicilan), tapi dia memberikan ponselnya. Namun, si pemilik kedai yang keluar dari ruangan belakang ternyata punya solusi lain yang lebih 'edukatif'.

Satu jam kemudian...


Di bagian belakang kedai, terlihat pemandangan yang sangat mengharukan. Pak Bambang, dengan seragam apron pink bertuliskan "I Love Gelato", sedang sibuk menggosok panci-panci besar bekas adonan es krim. Di sampingnya, Kevin, sang Sultan Cilik, sedang memegang spons dengan wajah cemberut sambil membersihkan sisa-sisa es krim yang lengket di lantai.

"Pap, ini nggak masuk dalam konten aku tadi," keluh Kevin sambil mengusap keringat di dahinya yang kini belepotan busa sabun.

Pak Bambang menoleh dengan tatapan tajam. "Diam kamu! Gara-gara khodam stroberi kamu itu, Papa jadi harus lembur cuci piring di sini! Cepat gosok itu, jangan sampai ada noda cokelat pedas yang tersisa!"

Tiba-tiba, pintu belakang terbuka. Seorang wanita muncul dengan wajah garang sambil berkacak pinggang. "Oalah! Pantesan dicariin ke rumah nggak ada, HP nggak aktif, ternyata bapak sama anak malah buka cabang jasa cuci piring di sini!"

Itu adalah Mama Kevin. Ternyata dia bisa melacak keberadaan mereka lewat fitur Find My Phone yang kebetulan lupa dimatikan Pak Bambang.

"Ma! Tolong Ma! Bayarin es krimnya!" teriak Kevin kegirangan.

Mama Kevin melihat struk di atas meja kasir, lalu melihat ke arah suami dan anaknya. Dia terdiam sejenak, lalu mengambil HP-nya dan mulai merekam.

"Halo Guys! Balik lagi di vlog aku. Lihat nih, contoh suami dan anak yang gaya elit tapi ekonomi sulit. Jangan ditiru ya! Oke, Mas pelayan, biarin aja mereka kerja di sini sampai jam tutup kedai. Biar kapok! Saya mau pulang dulu, mau makan seblak yang harganya sepuluh ribu dapet kerupuk sebaskom!"

Mama Kevin pergi sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan Pak Bambang dan Kevin yang hanya bisa saling pandang dalam kehampaan.

"Pap," panggil Kevin pelan.

"Apa lagi?"

Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

"Besok-besok kalau mau healing, kita minum air keran direbus aja ya, Pap?"

"TIDAK ADA BESOK-BESOKAN! CEPAT GOSOK PANCINYA!"

Dan sore itu, berakhir dengan Kevin yang menyadari bahwa jadi sultan itu berat, apalagi kalau modalnya cuma modal nekat dan doa orang tua yang lagi marah. Di pojok kedai, es krim emas 24 karat yang tersisa sudah mencair, seolah ikut menangisi nasib bapak dan anak yang kini ahli dalam urusan sabun cuci piring.


0 Response to "Misi Sultan Cilik: Borong Es Krim Berujung Operasi Cuci Piring"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel