CerpenCil | Skandal Es Krim Vanila yang Tertukar
Cerpencil New | Skandal Es Krim Vanila yang Tertukar
Siang itu, matahari di luar seolah-olah sedang mengajak bumi untuk barbeque-an. Suhu mencapai 38 derajat Celcius, cukup panas untuk membuat otak Bagas mendidih. Di dalam rumah, Bagas, seorang remaja SMA yang merasa dirinya adalah detektif kelas wahid, sedang mengawasi musuh bebuyutannya: Dira, adiknya yang masih SMP namun memiliki kelicikan setara rubah di film Zootopia.
Target mereka satu: Sebuah cup es krim vanila premium merek "L’Olla-Lala" yang tersembunyi di balik tumpukan buncis beku dan plastik berisi lengkuas di pojok terdalam freezer.
Bagas sudah menandai es krim itu dengan tulisan spidol permanen: "PROPERTI NEGARA – JANGAN DISENTUH". Namun, ia tahu Dira tidak buta huruf, dia hanya pura-pura bodoh demi asupan gula.
"Mau apa kamu ke dapur?" tanya Bagas dengan suara berat, berdiri di ambang pintu dapur seperti penjaga gerbang neraka. 12072026
Dira berjingkat, tangannya hampir menyentuh gagang kulkas. "Mau minum, Kak. Haus. Masa minum aja harus izin UU ITE?"
"Minum boleh, tapi mata jangan jelalatan ke arah freezer. Kakak tahu rencana busukmu," kata Bagas tajam.
Dira mendengus, lalu tiba-tiba wajahnya berubah sendu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kak, kamu jahat banget. Tadi di sekolah aku dihukum lari sepuluh putaran karena lupa bawa buku cetak. Aku cuma butuh sesuatu yang dingin buat mendinginkan hatiku yang hancur..."
Bagas tertegun. Wah, teknik manipulasi kesedihan tingkat dewa, pikirnya. Namun, sebagai kakak yang punya sedikit empati (sekitar 0,5%), Bagas merasa agak kasihan. "Ya sudah, tapi es krim itu punya Kakak. Kakak beli pakai uang tabungan hasil nggak jajan cilok seminggu!"
"Tapi Kak, aku tadi lihat ada dua cup vanila di sana," bisik Dira pelan, seolah membocorkan rahasia negara.
Bagas terbelalak. "Dua? Perasaan cuma satu!"
Mereka berdua akhirnya sepakat untuk melakukan "Gencatan Senjata Kulkas". Mereka membuka pintu freezer bersama-sama. Dan benar saja, di samping buncis beku, ada dua cup es krim vanila dengan merek yang sama. Satunya bertuliskan "PROPERTI NEGARA", dan satunya lagi polos, bersih, seolah-olah turun langsung dari surga untuk Dira.
"Punya siapa yang satu lagi?" tanya Bagas heran.
"Mungkin Ibu yang beli," jawab Dira dengan mata berbinar. "Kak, ayo kita makan bareng-bareng di depan TV. Anggap saja ini perayaan perdamaian kita."
Dengan semangat membara, mereka membawa kedua cup itu ke ruang tengah. AC dinyalakan maksimal. Suasana berubah menjadi sangat syahdu. Bagas membuka cup miliknya, dan Dira membuka cup yang satunya. Wangi vanila yang manis dan lembut langsung memenuhi ruangan.
"Kak," Dira berkata sambil menyendok es krimnya dengan perlahan. "Makasih ya udah nggak pelit. Aku sayang banget sama Kakak."
Bagas terharu. Ia merasa menjadi kakak terbaik di dunia. "Iya Dek, maafin Kakak juga ya kalau sering galak. Dunia ini memang fana, tapi persaudaraan itu abadi."
Mereka makan dengan lahap. Bagas menikmati setiap tekstur lembut vanila itu. Namun, saat sendok kelima masuk ke mulutnya, Bagas merasa ada yang aneh.
"Dek... kok vanila kamu agak... berminyak ya?" tanya Bagas sambil melihat ke arah cup adiknya.
Dira mengunyah sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikunyah saat makan es krim. "Iya Kak, agak gurih gitu. Ada sensasi crunchy-nya. Mungkin ini varian baru, Vanila-Bawang Goreng?"
Bagas memperhatikan cup milik Dira lebih dekat. Kemudian ia melihat cup miliknya sendiri. Warna es krimnya putih bersih, tapi aromanya... tunggu. Bagas mengendus cup miliknya lagi. Aromanya tidak seperti vanila, melainkan lebih mirip... sabun pencuci piring aroma lemon.
Tiba-tiba, dari arah pintu depan, Ibu masuk dengan wajah panik sambil membawa tas belanjaan.
"BAGAS! DIRA! KALIAN LIHAT WADAH ES KRIM DI FREEZER?!" teriak Ibu histeris.
Bagas dan Dira membeku (pun intended). "I-ini lagi dimakan, Bu," jawab Bagas gemetar.
Ibu berlari ke ruang tengah dan menjerit melihat dua cup es krim yang sudah ludes setengah. "YA AMPUN! ITU BUKAN ES KRIM!"
Bagas menelan ludah. "Maksud Ibu?"
"Wadah yang ada tulisan 'PROPERTI NEGARA' itu isinya masker wajah racikan Ibu! Itu isinya putih telur, perasaan jeruk nipis, sama busa sabun muka buat ngecilin pori-pori! Ibu simpan di situ biar dingin pas dipakai!"
Bagas langsung merasa perutnya bergejolak. Pantas saja rasanya seperti mencuci piring di dalam mulut.
"Terus... yang polos ini punya siapa, Bu?" tanya Dira dengan suara kecil, berharap setidaknya dia makan sesuatu yang normal.
Ibu menatap Dira dengan tatapan lebih ngeri. "Itu... itu umpan pancing Bapak yang baru sampai tadi pagi! Isinya lemak babi dicampur ulat Jerman yang sudah diblender halus sama es batu biar tetap segar! Bapak bilang mau mancing besok pagi!"
Hening.
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari freezer.
Dira melihat ke arah sendoknya yang masih menempel sisa-sisa "es krim" yang ternyata adalah blenderan ulat. Bagas merasakan pori-pori ususnya mungkin sekarang sudah mengecil karena masker wajah Ibu.
"Hueeeekkkkk!" Bagas dan Dira berlari bersamaan ke arah kamar mandi, saling sikut bukan lagi karena berebut makanan, tapi berebut siapa yang paling duluan sampai ke lubang kloset.
Di tengah suara muntah yang bersahut-sahutan, terdengar suara Bapak dari depan rumah. "Bu! Mana umpan pancing Bapak? Loh, kok wadahnya kosong? Wah, Ibu rajin banget ya, umpan pancingnya dipindahin ke piring?"
Bagas, sambil memegang pinggiran wastafel, bergumam lirih, "Gencatan senjata paling membagongkan dalam sejarah umat manusia..."
Premium Mystery Box
Dira hanya bisa menangis sambil berkumur-kumur pakai air segalon. Hari itu, mereka belajar satu hal penting: Jangan pernah percaya pada isi wadah yang ada di dalam freezer rumah sendiri. Karena di rumah ini, wadah es krim adalah penipuan terbesar melebihi investasi bodong mana pun.





0 Response to "CerpenCil | Skandal Es Krim Vanila yang Tertukar"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "