Tragedi Filter Estetik dan Amukan "Sultan" Daster: Kisah Kayra dan HP Barunya

Judul: Tragedi Filter Estetik dan Amukan "Sultan" Daster: Kisah Kayra dan HP Barunya

Di sebuah kamar yang bernuansa pink pastel dengan lampu LED strip yang berkelap-kelip warna-warni, hiduplah seorang ksatria digital muda bernama Kayra. Kayra bukanlah bocil biasa. Ia adalah "Bocil Cantik Kekinian" yang merasa dirinya adalah titisan influencer papan atas. Rambutnya diikat dua dengan jepit rambut berbentuk stroberi, dan wajahnya sudah dipoles tipis-tipis dengan lip serum supaya terlihat glowing di depan kamera.


Hari itu adalah hari kemenangan bagi Kayra. Sebuah kotak putih elegan tergeletak di kasurnya. Isinya? Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru yang kameranya ada tiga, mirip boba. "Gila, ini sih fix tingkat beauty gue naik 200 persen kalau pakai kamera ini," gumam Kayra sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya penuh dengan keceriaan yang meluap-luap. Ia merasa seperti baru saja mendapatkan kunci menuju gerbang popularitas dunia maya.

Di sudut meja, sebuah buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) terbuka dengan pasrah. Babnya tentang "Sistem Pencernaan Manusia". Kayra sempat melirik buku itu sebentar. "Ah, pencernaan bisa nunggu. Yang penting feeds Instagram gue nggak boleh pucat," pikirnya angkuh. Ia pun mulai beraksi. Kayra mencoba berbagai pose, mulai dari pose "sakit gigi" yang estetik, pose "melihat masa depan" yang melankolis, hingga mencoba filter terbaru yang bisa mengubah wajahnya menjadi karakter anime. 04082026


Waktu seolah terhisap ke dalam lubang hitam bernama scroll TikTok. Kayra asyik membuat video dance dengan lagu yang sedang viral. Satu jam berlalu, ia masih asyik memilih lagu. Dua jam berlalu, ia sibuk mengedit teks di video. Tiba-tiba, suasana menjadi sunyi. Sangat sunyi. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah berbisik, "Mampus kau, mampus kau."

Perasaan ceria tadi perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang mencekam. "Kok di luar sepi banget ya? Biasanya Mama sudah teriak-teriak minta dibantu angkat jemuran," batin Kayra. Ia menempelkan telinganya ke pintu kamar. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara piring beradu. Yang ada hanyalah aura dingin yang merayap masuk lewat celah bawah pintu.


Tiba-tiba, BRAAAK!

Pintu kamar terbuka dengan kecepatan cahaya. Kayra hampir saja melempar HP barunya karena kaget. Di ambang pintu, berdirilah sesosok penguasa tertinggi di rumah itu: Mama. Mama tidak menggunakan gaun pesta, tapi daster batik motif parang miliknya tampak lebih megah sekaligus mengerikan daripada jubah perang manapun. Tangan kiri Mama di pinggang, dan tangan kanannya memegang sebuah benda yang sangat dikenal Kayra sebagai "Remot Kontrol Kehidupan": Sandal karet warna biru.

"Kayra... Cantik sekali anak Mama," suara Mama sangat lembut, namun nadanya turun dua oktav, membuat bulu kuduk Kayra berdiri tegak melebihi antena radio.

"E-eh, Mama... Iya dong, kan anak Mama," jawab Kayra dengan tawa yang dipaksakan, lebih mirip suara kambing kejepit.

"Itu HP baru, ya? Bagus ya kameranya? Bisa buat foto tulang-tulang yang belum belajar IPA nggak?" tanya Mama sambil melangkah maju dengan gerakan dramatis, seolah-olah setiap langkahnya diiringi musik latar film horor.

Kayra gemetar. Ia mencoba menyembunyikan HP-nya di balik punggung, tapi sudah terlambat. Cahaya layar HP-nya masih menyala terang, menampilkan draf video TikTok-nya yang bertuliskan: "Glow up check! Belajar no, dandan yes!"

Mata Mama melotot melihat tulisan itu. Drama dimulai. "Ooo, jadi ini yang kamu lakukan dari tadi? Mama beli itu HP biar kamu gampang tanya tugas di grup WhatsApp kelas, bukan buat jadi 'duyung' goyang-goyang di depan kamera!" teriak Mama. Suaranya menggelegar, membuat lampu LED di kamar Kayra seolah ikut berkedip ketakutan.

"Tapi Ma, ini buat masa depan Kayra jadi content creator!" Kayra mencoba membela diri dengan nada menyedihkan, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia berharap Mama akan luluh melihat wajah cantiknya yang sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat melas.


"Masa depan apa? Masa depan di depan meja setrikaan?" balas Mama ketus. "Sini HP-nya! Mama sita sampai ulangan IPA kamu dapat nilai seratus. Kalau perlu, Mama yang pakai HP ini buat jualan daster live di TikTok!"

Hati Kayra hancur berkeping-keping. Bayangkan, HP baru, kamera boba, belum sempat pamer ke teman-teman, sudah harus berpindah tangan ke penguasa daster. Rasanya lebih menyedihkan daripada ditinggal nikah oleh bias K-Pop pujaan hati. Dengan tangan gemetar dan isak tangis yang dibuat sesedih mungkin (namun tetap estetik), Kayra menyerahkan HP-nya.

"Sekarang, buka buku IPA itu! Baca tentang lambung! Biar kamu tahu gimana rasanya perut Mama yang mules ngelihat kelakuan kamu!" perintah Mama sambil berlalu pergi, menutup pintu dengan dentuman yang membuat poster di dinding Kayra miring.

Kini, Kayra duduk sendirian di kamarnya yang mendadak terasa hampa. Tidak ada lagi cahaya HP yang menemaninya. Hanya ada buku IPA dengan gambar usus dua belas jari yang seolah menertawakan nasibnya. Ia merasa kocak sekaligus merana. Cantik-cantik tapi kena sita, begitulah nasib bocil kekinian yang lupa daratan.

Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

Ia pun mulai membaca dengan terpaksa. "Sistem pencernaan dimulai dari mulut..." gumam Kayra lesu. Dalam hatinya ia berjanji, lain kali ia akan belajar dulu sebelum bermain HP, atau setidaknya, ia akan memastikan Mama sedang tidur nyenyak sebelum ia mulai beraksi dengan konten glow up-nya. Malam itu, kamar Kayra tidak lagi dipenuhi musik jedag-jedug, melainkan suara hafalan nama-nama enzim yang terdengar seperti mantra pengusir sial.


0 Response to "Tragedi Filter Estetik dan Amukan "Sultan" Daster: Kisah Kayra dan HP Barunya"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel