Dracil Nakal | Misi Siram Bunga: Ibu yang Basah, Si Manis yang Tertawa Bahagia
Misi Siram Bunga: Ibu yang Basah, Si Manis yang Tertawa Bahagia
Hari Minggu pagi biasanya menjadi waktu bagi Ibu untuk melakukan ritual favoritnya: merawat tanaman hias di halaman depan. Namun, pagi ini berbeda. Di sampingnya, sudah berdiri tegak seorang "asisten" kecil bernama Aruna, yang akrab dipanggil Si Manis. Bocah berusia empat tahun itu memakai sepatu bot plastik kuning kegedean dan topi pantai milik Ibunya yang merosot menutupi dahi.
"Ibu, Aruna mau bantu siram bunga. Aruna sudah besar, sudah bisa jadi pahlawan air!" seru Aruna dengan tangan dipinggang, mencoba terlihat gagah meski ingusnya sedikit meler.
Ibu tersenyum, meski dalam hati ada sedikit rasa was-was. Mengizinkan Aruna memegang selang air adalah sebuah risiko besar, setara dengan membiarkan anak kucing menjaga stoples ikan cupang. Namun, melihat binar di mata anaknya yang begitu tulus ingin belajar, Ibu tak tega menolak.
"Boleh, Sayang. Tapi janji ya, pelan-pelan saja. Tekan kepalanya sedikit supaya airnya keluar seperti gerimis, bukan seperti air bah," pesan Ibu sambil memberikan ujung selang.
Misi dimulai. Awalnya, semuanya berjalan lancar. Aruna dengan sangat hati-hati mengarahkan air ke pot-pot mawar. Wajahnya terlihat sangat serius, lidahnya sedikit menjulur ke samping—tanda ia sedang berkonsentrasi tingkat tinggi. "Minum yang banyak ya, Bunga Merah. Biar kamu nggak haus," bisiknya pelan. Ibu yang memperhatikan dari kejauhan merasa haru. Anakku sudah besar, sudah punya empati, pikir Ibu bangga.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit. Masalah dimulai ketika seekor kupu-kupu kuning hinggap di pucuk tanaman melati. Mata Aruna langsung berbinar nakal. "Ibu! Lihat! Ada tamu!" teriaknya.
Tanpa sadar, jempol kecil Aruna menekan lubang selang dengan sangat kuat. Tekanan air yang tadinya lembut seperti gerimis tiba-tiba berubah menjadi semburan jet yang liar. Selang itu meliuk-liuk di tangan Aruna seperti ular yang sedang kesurupan. Aruna yang kaget bukannya melepaskan selang, malah memegangnya semakin erat sambil berputar-putar.
"Aruna! Arahkan ke bawah, Nak!" teriak Ibu panik.
Tapi terlambat. Syuuuttt! Semburan air itu menghantam jemuran baju yang baru saja kering. Wusss! Air berpindah menyiram kucing tetangga yang sedang berjemur hingga kucing itu melompat seperti atlet parkour. Dan puncaknya, saat Ibu berlari mendekat untuk merebut selang, Aruna yang sedang tertawa kegirangan malah mengarahkan selang itu tepat ke wajah Ibunya.
Srrrraaaakkkk!
Ibu terpaku. Dalam hitungan detik, daster kesayangannya basah kuyup. Rambut yang tadi disanggul rapi kini lepek menempel di wajah seperti rumput laut. Air menetes-netes dari ujung hidung Ibu. Untuk sesaat, suasana hening. Aruna berhenti bergerak. Ia menatap Ibunya dengan mata bulat yang penuh ketakutan. Selang air itu jatuh ke tanah, mengalir tenang membasahi kaki mereka.
"Ibu... Ibu jadi kolam?" bisik Aruna lirih, bibirnya mulai melengkung ke bawah, matanya berkaca-kaca karena takut dimarahi.
Melihat wajah Aruna yang lugu dan penuh rasa bersalah, amarah Ibu yang tadinya sempat mendidih tiba-tiba luluh. Ibu melihat pantulan dirinya di kaca jendela: basah kuyup, berantakan, dan tampak sangat konyol. Ibu mulai terkikik, lalu tawa itu meledak.
"Hahaha! Aruna, Ibu bukan kolam, Ibu sekarang jadi putri duyung terdampar!" tawa Ibu pecah sambil mengusap air dari wajahnya.
Melihat Ibu tertawa, ketakutan Aruna sirna seketika. Ia ikut tertawa terpingkal-pingkal sampai terjatuh di rumput yang basah. "Ibu lucu! Ibu mandi pakai baju! Hahaha!" Aruna tertawa begitu lepas, suara tawa khas anak kecil yang bisa menghapus segala rasa lelah.
Ibu kemudian duduk di samping Aruna di atas rumput, mengabaikan pakaiannya yang kotor. Ia memeluk putri kecilnya itu. "Kenapa tadi disiram ke Ibu?" tanya Ibu lembut.
Aruna menatap Ibunya dengan tulus. "Ibu kan tadi bilang, bunga disiram biar nggak layu, biar segar, dan biar tumbuh tinggi. Aruna sayang Ibu, Aruna nggak mau Ibu layu karena capek kerja terus. Aruna mau Ibu segar terus dan tumbuh tinggi sampai ke langit!"
Mendengar alasan polos itu, tawa Ibu mendadak berhenti. Ada sesuatu yang hangat merayap di dadanya, lebih hangat dari sinar matahari pagi itu. Matanya yang tadi basah karena air selang, kini basah karena air mata haru. Ternyata, di balik kekacauan yang dibuatnya, ada cinta yang begitu besar dalam hati mungil itu.
"Terima kasih, Sayang. Ibu sudah segar sekali sekarang," bisik Ibu sambil mencium puncak kepala Aruna yang juga basah.
Pagi itu, misi menyiram bunga berakhir dengan "perang air" kecil-kecilan. Ibu memutuskan untuk tidak marah pada daster yang basah atau jemuran yang harus diulang. Karena di halaman rumah yang becek itu, ia belajar satu hal baru dari Si Manis: bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata manis, kadang ia hadir dalam bentuk semprotan air yang membuat kita basah kuyup, tapi hati terasa sangat hangat.
Premium Mystery Box
Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan, meninggalkan jejak kaki berlumpur di lantai, sambil tetap tertawa bersama. Di hari Minggu itu, bunga-bunga di taman memang basah, tapi kebahagiaan di hati mereka mekar jauh lebih indah.





0 Response to "Dracil Nakal | Misi Siram Bunga: Ibu yang Basah, Si Manis yang Tertawa Bahagia"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "