Jangan Sentuh Es Krimku!

 Cerpencil | Jangan Sentuh Es Krimku!

Hari itu, suhu di luar rumah sudah melampaui batas kewajaran manusiawi. Jika kau menaruh telur di atas aspal, mungkin telur itu tidak hanya matang, tapi langsung menjadi nasi padang. Di tengah simulasi neraka bocor ini, Raka memiliki satu harta karun paling berharga di dunia: sebuah es krim Double Choco-Lava Blast yang ia sembunyikan di bagian paling belakang freezer, di balik tumpukan buncis beku agar tidak terlihat.


Raka bahkan menempelkan memo kecil di pintunya: "Siapa pun yang menyentuh es krim ini, akan dihapus dari Kartu Keluarga dan dikutuk menjadi charger HP yang hanya masuk kalau digoyang-goyang!"

Raka pun masuk ke kamar mandi dengan tenang. Namun, malapetaka dimulai. Di luar, adiknya yang bernama Dika sedang kegerahan tingkat dewa. Dika adalah tipe orang yang bisa mencium keberadaan makanan manis dalam radius lima kilometer. Dengan insting predatornya, Dika membuka kulkas. Matanya menyipit melihat tumpukan buncis yang mencurigakan.

Sret! Buncis digeser. Zap! Harta karun itu ditemukan.

"Maafkan aku, Kak. Darurat iklim lebih penting daripada persaudaraan," bisik Dika dramatis sambil membuka kemasan es krim itu.

Tepat saat Raka keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala, ia mendengar suara yang paling ia takuti: suara lidah yang mengecap penuh kemenangan. Raka berlari ke dapur. Ia melihat Dika sedang memegang stik es krim yang sudah bersih mengkilap.

Dunia seolah berhenti berputar. Musik sedih biola mendadak terngiang di telinga Raka. Ia jatuh berlutut, menatap tong sampah di mana bungkus es krim kesayangannya tergeletak tak berdaya.

"Dika..." suara Raka bergetar, "Itu bukan sekadar es krim. Itu adalah alasan aku tetap ingin hidup setelah putus dari pacarku kemarin. Itu adalah belahan jiwaku!"

Raka mulai menangis sesenggukan (yang dibuat-buat agar Dika merasa berdosa). "Tega kamu, Dik. Kamu makan kebahagiaanku. Kamu makan masa depanku!"

Dika yang awalnya merasa bersalah, mulai kesal karena kakaknya terlalu lebay. "Halah, Kak! Nanti aku ganti pakai uang tabunganku! Jangan nangis kayak habis ditilang polisi dong!"

"Nggak bisa! Es krim itu edisi terbatas! Sekarang aku nggak punya siapa-siapa lagi!" Raka meraung, memeluk pintu kulkas yang dingin seolah memeluk jenazah sahabatnya.

Suasana menjadi haru sekaligus absurd. Ibu mereka yang baru pulang dari pasar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak sulungnya meratapi es krim seolah meratapi keruntuhan kerajaan Majapahit.

"Sudah, sudah! Raka, jangan berisik!" bentak Ibu.

"Tapi Bu, Dika makan es krim Raka! Dia melanggar hukum internasional rumah ini!"

Ibu menghela napas panjang, lalu menatap Dika dengan tatapan kasihan. "Dika... kamu beneran makan es krim yang di balik buncis itu?"

"Iya, Bu. Habisnya panas banget. Maafin Dika ya, Kak," jawab Dika lesu.

Ibu diam sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi pucat, kemudian malah tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan.

"Kenapa Ibu ketawa? Ibu senang aku menderita?" tanya Raka bingung.

"Bukan begitu..." Ibu mengatur napas. "Masalahnya, es krim yang asli sudah Ibu makan tadi pagi. Terus, karena Ibu malas buang bungkusnya dan takut Raka marah, Ibu ambil sisa mpasi (makanan pendamping ASI) bayi punya tetangga yang dititip di rumah, Ibu campur sama jamu pahit sisa bapakmu, terus Ibu masukin lagi ke bungkus es krim itu biar kelihatan penuh, lalu Ibu lem lagi biar rapi..."

Dika terdiam. Wajahnya yang tadinya segar karena es krim, mendadak berubah menjadi hijau lumut.

"Jadi... yang aku makan tadi..." suara Dika mengecil.

"Iya," potong Ibu. "Itu bubur tim hati ayam campur jamu brotowali yang dibekukan. Ibu pikir nggak bakal ada yang mau makan makanya Ibu taruh di situ buat ngerjain Raka kalau dia berani buka."

Raka berhenti menangis. Ia berdiri, menatap adiknya yang sekarang sedang berusaha memuntahkan isi perutnya di wastafel. Akhir yang sungguh membagongkan; Raka tidak jadi kehilangan es krim (karena memang sudah tidak ada), dan Dika mendapatkan balasan yang lebih kejam daripada dihapus dari Kartu Keluarga.

Raka tersenyum tipis. "Gimana, Dik? Rasa keadilan... eh, rasa hati ayamnya enak?"

Dika hanya bisa membalas dengan lambaian tangan lemas sambil terus berkumur menggunakan sabun cuci piring. Ternyata, pencuri tidak selalu berakhir di penjara, kadang mereka berakhir dengan rasa brotowali di lidah.


0 Response to "Jangan Sentuh Es Krimku!"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "