CerpenCil | Ketika Emak Menyerah Sama Akal Bulus si Polos

 Dracil CerpenCil | Ketika Emak Menyerah Sama Akal Bulus si Polos

Di sebuah kampung yang tenang tapi sering mendadak heboh, hiduplah seorang ibu bernama Mak Ijah dan anak laki-lakinya yang berusia 8 tahun bernama Tono. Tono ini adalah definisi nyata dari "anak ajaib". Dia bandelnya minta ampun, tapi kepolosannya seringkali membuat Mak Ijah berada di ambang batas antara ingin mengirim Tono ke pesantren kilat atau memeluknya sampai sesak napas.


Pagi itu, tensi darah Mak Ijah naik lebih cepat dari biasanya. Penyebabnya sepele tapi fatal: stoples kerupuk kesayangan Mak Ijah pecah berkeping-keping, dan pelakunya sudah pasti si "Agen Rahasia" Tono.


"Tono! Keluar kamu! Ini kenapa stoples bisa terbang dan mendarat jadi puzzle begini?" teriak Mak Ijah sambil memegang gagang sapu, senjata pamungkasnya.


Tono keluar dari balik lemari dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa, berusaha terlihat sedih tapi malah tampak seperti orang yang menahan buang air besar.


"Mak, itu tadi bukan Tono. Itu tadi ada cicak raksasa lewat, terus dia tendang stoplesnya. Tono tadi sebenarnya mau nangkep, tapi cicaknya jago karate," jawab Tono dengan wajah sangat serius, tanpa berkedip.


Mak Ijah menghela napas panjang. "Cicak karate? Kamu pikir ini film Boboho? Jujur atau Mak coret kamu dari Kartu Keluarga!"


Melihat ancaman "pemecatan" dari silsilah keluarga, Tono mulai mengeluarkan akal bulusnya yang legendaris. Dia tahu Mak Ijah paling lemah kalau melihat dia berbuat baik, meski kebaikannya sering berakhir bencana.


"Sebenarnya begini, Mak..." Tono mulai mendekat, suaranya dipelankan seolah membocorkan rahasia negara. "Tono itu tadi mau bantuin Emak nyuci stoplesnya pakai sabun colek, biar kinclong kayak gigi artis di TV. Tapi pas Tono bawa ke sumur, stoplesnya licin banget, Mak. Dia kayak sabun mandi, nari-nari di tangan Tono, terus tiba-tiba dia memutuskan untuk terjun payung tanpa parasut."


Mak Ijah hampir saja tertawa, tapi dia menahannya. "Terus kenapa harus dicuci sekarang? Kan masih ada isinya!"


"Ya karena Tono sayang Emak! Emak kan sering bilang, kebersihan itu sebagian dari iman. Tono cuma mau Emak masuk surga lebih cepat!" jawab Tono dengan polosnya.


"Heh! Maksud kamu Emak disuruh mati?!" seru Mak Ijah kaget.


"Bukan gitu, Mak! Maksud Tono, biar pahala Emak banyak karena punya stoples bersih!" Tono mulai berkaca-kaca. Inilah senjatanya: air mata buaya yang dicampur kepolosan murni.


Mak Ijah menyerah. Dia meletakkan sapunya. "Ya sudah, beresin. Jangan diulang lagi."


Namun, puncak dari segala "akal bulus" Tono terjadi sore harinya. Mak Ijah sedang duduk melamun di teras, tampak sedih karena dompetnya sedang tipis di akhir bulan. Tono yang melihat ibunya murung, tiba-tiba menghilang ke dalam kamar.


Satu jam kemudian, dia keluar dengan membawa sebuah kotak sepatu yang dibungkus kertas kado bekas yang ditempel isolasi di sana-sini. Sangat berantakan.


"Mak, ini buat Emak. Hadiah dari Tono supaya Emak nggak sedih lagi," katanya pelan.


Mak Ijah tertegun. Dia membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada tumpukan uang kertas mainan monopoli, beberapa koin lima ratusan yang sudah berkarat, dan... selembar kertas bertuliskan tangan:


"Surat Perjanjian: Tono janji nggak akan mecahin stoples lagi sampai besok pagi. Dan ini uang buat Emak beli bakso, biar Emak nggak nangis karena miskin. Tono sayang Emak."


Melihat tulisan "nangis karena miskin", Mak Ijah ingin sekali menjitak kepala Tono. Tapi melihat uang koin berkarat itu yang dia tahu adalah hasil Tono menabung dari uang jajan yang hanya seribu rupiah sehari, hati Mak Ijah luluh. Dia mulai menangis sesenggukan. Antara terharu karena perhatian anaknya, dan ingin tertawa kencang karena logika anaknya yang menganggap uang monopoli bisa membayar cicilan panci.


"Tono... ini uang mainan, Nak. Nggak bisa buat beli bakso," kata Mak Ijah sambil mengusap air mata.


Tono terkejut, matanya membelalak. "Hah? Masa sih, Mak? Kata Bang Jago di pasar, kalau gambarnya ada orang pakai topi tinggi, itu uang orang kaya! Tono sudah tukar uang asli Tono sepuluh ribu sama uang ini banyak banget biar Emak jadi orang kaya!"


Tawa Mak Ijah langsung meledak. Dia tertawa sampai terbahak-bahak, sementara air matanya masih mengalir. Dia menyadari anaknya baru saja ditipu preman pasar dengan iming-iming uang monopoli, demi membuat ibunya senang.


"Ya ampun Tono... kamu itu bandel, bego, atau malaikat sih?" Mak Ijah memeluk Tono erat-erat.


"Tono itu pahlawan Mak! Tapi pahlawan yang lagi laper. Jadi, uang koin yang karatan itu bisa buat beli cilok satu tusuk nggak, Mak?" tanya Tono sambil nyengir polos.


Mak Ijah hanya bisa menggelengkan kepala. Sore itu, di teras rumah yang sederhana, Mak Ijah benar-benar menyerah. Dia menyerah untuk marah, menyerah untuk pusing, dan memilih untuk menikmati tawa bersama anak laki-lakinya yang ajaib itu. Karena bagi Mak Ijah, meskipun Tono adalah sumber utama sakit kepalanya, Tono juga satu-satunya obat yang paling ampuh untuk menyembuhkannya.


"Ayo, kita beli bakso beneran. Pakai uang Emak yang tinggal selembar ini," ajak Mak Ijah.


"Asyik! Mak, nanti kalau uangnya habis, Tono ada ide lagi. Kita cari cicak karate tadi, terus kita suruh dia ikut lomba lari, pasti kita menang banyak!" celetuk Tono sambil melompat kegirangan.


Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

Mak Ijah hanya tertawa lagi. Benar-benar, punya anak seperti Tono adalah ujian kesabaran sekaligus anugerah komedi yang tak ada habisnya.


0 Response to "CerpenCil | Ketika Emak Menyerah Sama Akal Bulus si Polos"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel