Cerpencil | Tragedi Lipstik Mahal di Tangan Seniman Cilik
Tragedi Lipstik Mahal di Tangan Seniman Cilik
Sore itu, suasana rumah terasa sangat damai. Terlalu damai, sebenarnya. Bagi seorang ibu dengan anak berusia empat tahun bernama Kiko, keheningan adalah sebuah sinyal bahaya level merah. Namun, Arini sang ibu sedang terlalu asyik menikmati kopi hangatnya setelah seharian berkutat dengan cucian yang menumpuk. Ia berpikir, “Mungkin Kiko sedang belajar mandiri dengan main balok di kamar.”
Oh, betapa salahnya pemikiran itu.
Arini meletakkan cangkir kopinya dan berjalan pelan menuju kamar. Pintu kamar sedikit terbuka. Tidak ada suara teriakan "Dor!" atau bunyi mainan jatuh. Arini mengintip. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama tiga detik, lalu berpacu secepat mobil Formula 1.
Di tengah lantai karpet berwarna krem yang mahal, duduklah Kiko dengan wajah serius layaknya Leonardo da Vinci sedang menyelesaikan Monalisa. Di tangannya bukan kuas, melainkan sebuah benda berbentuk silinder emas yang sangat Arini kenali. Itu adalah lipstik Limited Edition merek Perancis yang baru dibelinya minggu lalu seharga cicilan motor satu bulan.
Lipstik itu tidak lagi berada di dalam wadahnya. Batang merah merona yang seharusnya hanya menyentuh bibir Arini saat acara formal, kini telah berubah wujud menjadi "krayon raksasa".
"Kiko..." suara Arini bergetar, antara mau pingsan atau meledak.
Kiko menoleh dengan wajah penuh coretan merah. Bibirnya merah belepotan sampai ke hidung, pipinya penuh garis-garis abstrak, dan yang paling membuat Arini ingin menangis darah: Kiko sedang menggambar matahari besar di atas sprei putih kesayangannya menggunakan lipstik tersebut.
"Mama! Lihat! Kiko gambar taman bunga buat Mama!" seru Kiko dengan bangga, memamerkan deretan gigi kecilnya yang juga berwarna kemerahan.
Arini mendekat dengan langkah gontai. Ia melihat lipstik kesayangannya sudah tumpul, patah, dan hancur berkeping-keping di atas lantai. Hatinya terasa seperti diremas-remas. “Itu harganya delapan ratus ribu, Nak... itu bukan krayon dua ribuan,” jerit batin Arini. Ada rasa sesak yang luar biasa, rasa "makan hati" yang sesungguhnya. Ia ingin marah, tapi melihat wajah polos Kiko yang penuh "karya seni", ia juga merasa ingin tertawa karena kekonyolannya.
"Ini bunga buat Mama?" tanya Arini dengan suara yang sengaja dilembutkan, meski tangannya gemetar menahan emosi.
"Iya! Karena Mama cantik kalau pakai warna merah, jadi kamarnya Kiko kasih warna merah semua!" jawab Kiko tanpa dosa.
Arini memejamkan mata. Ia melihat ke sekeliling. Bukan cuma sprei dan wajah Kiko, ternyata dinding putih di samping tempat tidur juga sudah penuh dengan coretan "estetik" berbahan dasar lemak dan pigmen warna kelas atas. Di sudut ruangan, kucing peliharaan mereka, si Meong, lewat dengan ekor yang juga memiliki garis merah. Kiko rupanya tidak pilih-pilih media dalam berkarya.
Kemarahan Arini perlahan berubah menjadi rasa sedih yang kocak. Ia membayangkan bagaimana cara membersihkan lemak lipstik tahan lama (yang diklaim waterproof dan smudgeproof selama 24 jam) dari dinding dan sprei. Iklan lipstik itu benar: produknya memang sangat sulit dihapus.
"Kiko, sayang... ini lipstik Mama, bukan krayon," ujar Arini akhirnya sambil berlutut di depan anaknya.
Kiko tampak bingung. "Tapi warnanya sama kayak krayon merah, Ma. Malah lebih lembek, enak buat gambar."
Arini menarik napas panjang. Ia mengambil sisa-sisa lipstik yang sudah hancur itu. Dalam hati ia berduka cita untuk kosmetiknya yang pergi terlalu cepat sebelum sempat dipakai ke kondangan. Namun, saat ia melihat mata berbinar Kiko yang menunggu pujian, amarah Arini luruh.
Ia mengambil ponselnya, memotret "Tragedi Lipstik" itu sebagai kenang-kenangan (dan barang bukti untuk suaminya nanti), lalu mulai tertawa kecil. Tawa yang awalnya terdengar seperti orang frustrasi, lama-lama menjadi tawa lepas yang meledak.
"Kenapa Mama ketawa? Bagus kan?" tanya Kiko ikut nyengir.
"Bagus, sayang. Bagus banget. Sampai Mama rasa ingin pingsan saking bagusnya," jawab Arini sambil menggendong Kiko menuju kamar mandi.
Sore itu dihabiskan Arini dengan menggosok dinding selama tiga jam, mencuci sprei dengan berbagai macam cairan pembersih, dan memandikan Kiko yang licin karena sisa lipstik. Meskipun dompetnya menjerit dan tenaganya habis, Arini sadar satu hal: barang mahal bisa dibeli lagi, tapi momen "seniman cilik" yang menganggap ibunya sebagai inspirasi adalah harta yang tak ternilai meski bayarannya memang cukup menguras kantong dan emosi.
Dunia memang milik bocil, dan ibu? Ibu cuma numpang sabar, numpang elus dada, dan numpang berdoa semoga besok tidak ada lagi barang limited edition yang berubah jadi media lukis.




0 Response to "Cerpencil | Tragedi Lipstik Mahal di Tangan Seniman Cilik"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "