Hadiah Ulang Tahun dari Uang Saku yang 'Dicuri' dari Dompet Emak
Hadiah Ulang Tahun dari Uang Saku yang 'Dicuri' dari Dompet Emak
Di sebuah gang sempit yang aromanya selalu bercampur antara wangi tumisan bawang dan jemuran basah, hiduplah Mak Ratna dan putra tunggalnya, Bagas. Bagas adalah bocah kelas 4 SD yang kepalanya dipenuhi ide-ide ajaib, sementara Mak Ratna adalah wanita tangguh yang kesabarannya setipis tisu dibagi dua, terutama jika menghadapi kelakuan Bagas.
Menjelang ulang tahun Mak Ratna yang ke-40, Bagas didera kegalauan tingkat dewa. Dia ingin memberikan hadiah yang "mewah" untuk Emaknya. Masalahnya, tabungan Bagas di celengan ayamnya hanya berisi dua keping koin lima ratusan dan satu kancing baju yang dia temukan di jalan.
Maka, dimulailah sebuah operasi rahasia yang diberi nama "Operasi Sayang Emak tapi Nyolong".
Setiap pagi, saat Mak Ratna sibuk menggoreng bakwan untuk dijual, Bagas dengan gerakan setenang ninja atau lebih mirip kucing kejepit mendekati daster Emaknya yang digantung di balik pintu. Dengan jari gemetar, dia merogoh kantong daster atau dompet bunga-bunga milik Emaknya.
"Dua ribu... cukup buat beli mutiara nggak ya?" bisiknya polos sambil menyembunyikan uang itu di dalam kaos kaki busuknya agar tidak ketahuan.
Hari kedua, dia mengambil lima ribu. Hari ketiga, sepuluh ribu. Mak Ratna mulai merasa ada yang aneh. Dia mulai menghitung uang modal dagangannya yang selalu kurang.
"Astaga, apa di rumah ini ada tuyul peliharaan tetangga?" gumam Mak Ratna curiga. Dia mulai menaburkan garam di depan pintu kamar, tapi uang tetap hilang. Dia bahkan sempat mencurigai kucing oren depan rumah, tapi kucing itu hanya mengeong malas.
Puncaknya adalah H-1 ulang tahun. Mak Ratna sudah tidak tahan lagi. Dia sengaja meletakkan dompetnya di atas meja makan dan bersembunyi di balik gorden dapur sambil memegang ulekan sambal. Benar saja, sesosok bayangan kecil merayap masuk. Dengan gerakan kilat, Bagas merogoh dompet itu.
"KETAHUAN KAMU, TUYUL KELAS TERI!" teriak Mak Ratna sambil melompat keluar dari balik gorden.
Bagas melonjak kaget sampai terjungkal ke belakang. Uang sepuluh ribuan di tangannya terlepas. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca.
"Mak... ini... ini..." suara Bagas bergetar.
"Tega kamu ya, Gas! Emak banting tulang jualan bakwan sampai tangan melepuh, kamu malah nyolong uang Emak sendiri? Buat apa? Beli kuota? Main warnet?" Mak Ratna berteriak penuh amarah, tapi matanya juga mulai basah karena kecewa. Hatinya hancur melihat anak yang dia banggakan ternyata menjadi "pencuri" di rumah sendiri.
Bagas menangis sesenggukan. "Bukan buat warnet, Mak... Tono bilang kalau mau kasih hadiah bagus harus pakai uang banyak. Uang jajan Bagas cuma seribu, kalau nunggu setahun Emak keburu tua banget..."
Mak Ratna terdiam, ulekan di tangannya perlahan turun. "Hadiah apa?"
Tanpa menjawab, Bagas lari ke kamarnya dan kembali membawa sebuah bungkusan koran yang diikat karet gelang. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkannya pada Mak Ratna. "Besok kan Emak ulang tahun. Bagas mau beli ini dari lama..."
Mak Ratna membuka bungkusan itu dengan perasaan campur aduk. Isinya adalah sebuah kotak kecil berwarna emas yang sudah agak penyok. Di dalamnya ada sebuah cincin mainan dari plastik dengan mata "berlian" plastik berwarna ungu segede biji nangka. Di samping cincin itu, ada selembar kertas dengan tulisan tangan cakar ayam yang luntur kena air mata:
"Selamat ulang tahun Mak. Bagas minta maaf nyolong uang Emak. Bagas kumpulin buat beli cincin ini biar Emak kayak orang kaya di TV yang nggak perlu goreng bakwan lagi. Nanti kalau Bagas sudah besar, Bagas ganti uang Emak sejuta triliun. Jangan marah ya Mak, Bagas sayang banget sama Emak."
Seketika, pertahanan Mak Ratna runtuh. Kemarahan yang tadi meluap-luap berubah menjadi rasa sesak di dada yang tak tertahankan. Dia melihat cincin plastik murahan seharga dua puluh ribu itu—yang dibeli Bagas dengan cara "mencuri" uangnya sendiri. Antara ingin tertawa karena kepolosan anaknya yang menganggap cincin plastik bisa membuatnya jadi orang kaya, dan ingin menangis karena kasih sayang anaknya yang begitu murni.
"Bagas... anak dongo... ini kan uang Emak juga," ucap Mak Ratna sambil tertawa kencang di tengah tangisnya yang sesenggukan. Suaranya terdengar aneh, seperti suara knalpot motor yang masuk air.
"Iya, Mak... Bagas pikir kalau Bagas yang beliin, uangnya jadi berkah," jawab Bagas dengan wajah polos yang masih belepotan air mata dan ingus.
Mak Ratna tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Ya Allah, Gusti! Jadi kamu nyolong uang Emak, buat beliin Emak hadiah, pakai uang yang seharusnya buat beli terigu besok? Terus sekarang Emak mau jualan pakai apa, Bagas? Pakai batu kerikil?"
Bagas ikut tertawa meskipun bingung. "Eh... iya ya Mak? Bagas nggak kepikiran sampai situ. Tadi Bagas cuma mikir, yang penting Emak pakai cincin ungu itu biar cantik."
Mak Ratna menarik Bagas ke dalam pelukannya. Dia mencium ubun-ubun anaknya yang bau matahari itu. "Kamu itu bandelnya minta ampun, tapi pinternya kok pas-pasan banget sih, Nak? Lain kali kalau mau kasih hadiah, bilang sama Emak, nanti Emak yang kasih uangnya ke kamu, terus kamu kasih ke Emak lagi. Biar nggak ada drama tuyul-tuyulan!"
"Berarti nggak kejutan dong, Mak?" tanya Bagas sambil menyeka ingus di daster Emaknya.
"Bodo amat! Yang penting modal bakwan Emak aman!"
Malam itu, Mak Ratna memakai cincin plastik ungu itu dengan bangga. Meski jarinya jadi gatal-gatal karena alergi plastik murahan, dan meski besok dia harus meminjam uang ke tetangga untuk modal terigu, Mak Ratna merasa dialah wanita paling kaya di dunia.
Sementara itu, Bagas tidur dengan nyenyak, merasa misinya berhasil. Dalam mimpinya, dia sudah membayangkan tahun depan akan "mencuri" lagi untuk membelikan Emaknya sebuah mahkota, agar Emaknya bisa jadi Ratu Bakwan sejagat raya. Sebuah kepolosan yang membuat Mak Ratna harus menyiapkan stok sabar dan mungkin gembok tambahan untuk dompetnya.


0 Response to "Hadiah Ulang Tahun dari Uang Saku yang 'Dicuri' dari Dompet Emak"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "