Bocil Jenius Kena Karma Setelah Menyantap MBG Gratis
Bocil Jenius Kena Karma Setelah Menyantap MBG Gratis
Nama tokoh kita kali ini adalah Lilia, seorang siswa kelas 4 SD yang cita-citanya setinggi langit tapi kapasitas lambungnya seukuran botol minum seliter. Hari itu adalah hari yang sangat bersejarah di sekolah Lilia. Mengapa? Karena hari itu adalah hari pertama uji coba program MBG alias Makanan Bergizi Gratis.
![]() |
| Drama YTTAChLL Clue Download |
Sejak jam pelajaran pertama, aroma harum sudah tercium dari arah kantin. Lilia yang biasanya hanya sarapan kerak nasi sisa semalam, sudah tidak sabar. Pikirannya tidak lagi di papan tulis yang penuh dengan rumus pembagian, melainkan sudah terbang ke kotak makan plastik berwarna biru yang dijanjikan pemerintah itu.
“Anak-anak, hari ini kita dapat menu spesial. Ada nasi putih, ikan tongkol balado, sayur brokoli, pisang, dan susu kotak,” umum Bu Ratna, wali kelas Lilia yang suaranya selalu menggelegar melebihi speaker masjid.
Mendengar kata "Ikan Tongkol Balado", mata Lilia langsung berbinar. Sayangnya, Lilia punya satu kelemahan: dia tidak bisa melihat makanan enak menganggur. Ketika jatah MBG dibagikan, kebetulan si Anton, teman sebangkunya, sedang tidak nafsu makan karena habis putus cinta monyet dengan Siti anak kelas sebelah.
“Lil, buat lo aja nih ikan gue. Gue lagi galau,” kata Anton lesu.
Lilia, tanpa pikir panjang dan tanpa rasa empati sedikit pun, langsung menyambar ikan tongkol milik Anton. Jadi, total Lilia memakan dua porsi ikan tongkol balado yang bumbunya merah merona, seolah-olah berteriak, “Hati-hati, lambungmu akan meledak!”
Lima belas menit setelah makan dengan lahap, bencana itu dimulai.
Saat itu adalah jam pelajaran Matematika. Bu Ratna baru saja memberikan tugas mengerjakan 20 soal perkalian pecahan di papan tulis. Suasana kelas hening, hanya terdengar suara gesekan pensil. Namun, di dalam perut Lilia, suasananya jauh dari kata hening. Ada suara “kruyuk... grubuk... duar!” seperti sedang ada konser musik rock di dalam usus dua belas jarinya.
Wajah Lilia yang tadinya ceria berubah menjadi pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di dahinya.
“Bu... izin ke belakang,” pamit Lilia sambil memegangi perutnya dengan gaya seperti orang sedang menahan beban hidup yang sangat berat.
“Ya, jangan lama-lama ya, Lilia! Tugasnya harus dikumpul jam dua!” teriak Bu Ratna.
Lilia berlari secepat kilat. Di dalam kamar mandi, terjadilah "peristiwa bersejarah" itu. Lilia merasa seperti sedang meluncurkan roket ke luar angkasa. Setelah merasa lega, dia kembali ke kelas. Baru saja dia memegang pensil dan menulis "Nomor 1", tiba-tiba perutnya kembali memberikan sinyal darurat.
“Kruyuk... Berrrr!”
“Bu... izin lagi,” kata Lilia dengan suara gemetar.
“Lho, baru juga duduk, Lil?” tanya Bu Ratna heran.
“Panggilan alam jilid dua, Bu!” jawab Lilia sambil melesat kembali ke toilet.
Kejadian ini berulang sampai lima kali. Penjaga sekolah sampai bingung melihat Lilia bolak-balik seperti setrikaan. Setiap kali Lilia kembali ke kelas, dia hanya sempat menulis satu atau dua angka, lalu perutnya bergejolak lagi. Ikan tongkol balado tadi ternyata sedang melakukan demonstrasi besar-besaran di dalam perutnya.
Saking seringnya ke kamar mandi, Lilia merasa kakinya lemas seperti jeli. Dia menatap kertas tugasnya yang masih kosong melompong. Hanya ada tulisan: Nama: Lilia. Kelas: 4B. Tanggal: Hari Tersial sedunia.
Tet... tet... tet...! Bel pulang berbunyi.
“Kumpulkan tugasnya sekarang!” perintah Bu Ratna.
Lilia maju dengan lunglai. Saat Bu Ratna melihat kertas Lilia, matanya melotot. “Lilia! Kamu ini dari tadi ke belakang terus, tapi tugas satu pun nggak ada yang selesai? Ini nilai kamu merah! Nol besar!”
Lilia ingin menjelaskan bahwa ini semua karena efek "dahsyat" dari gizi yang terlalu tinggi di ikan tongkol tersebut, tapi perutnya kembali melilit. Dia hanya bisa pasrah saat Bu Ratna memberikan catatan merah besar di buku tugasnya.
Sesampainya di rumah, penderitaan Lilia belum berakhir. Ibunya, seorang wanita yang punya indra keenam soal nilai sekolah, sudah menunggu di depan pintu sambil memegang sapu lidi (bukan untuk memukul, tapi untuk bersih-bersih, tapi tetap saja seram bagi Lilia).
“Mana buku tugas Matematika kamu? Tadi Ibu lihat di grup WhatsApp wali murid, katanya ada tugas sulit,” tanya Ibunya.
Lilia menyerahkan bukunya dengan tangan gemetar. Begitu sang Ibu melihat angka nol besar berwarna merah yang dikelilingi catatan “TIDAK MENGERJAKAN”, seketika itu juga suhu di ruangan terasa naik sepuluh derajat.
“BUDIIII! Apa-apaan ini?! Mama sudah kasih sarapan, pemerintah sudah kasih makan siang gratis yang bergizi, tapi kenapa otak kamu nggak jalan?! Malah dapat nilai merah!” teriak Ibunya.
“Tapi Ma... Lilia sakit perut gara-gara MBG tadi... ikannya pedas banget, terus Lilia makan dua porsi...” bela Lilia dengan suara mencicit.
“Alasan! Makan gratis kok malah dijadikan alasan buat malas-malasan di kamar mandi! Kamu pasti sengaja pura-pura sakit perut biar nggak ngerjain tugas, kan? Kamu itu mau jadi apa? Ahli jamban?!”
Lilia ingin menangis, tapi rasa mulas lebih mendominasi daripada rasa sedih.
“Pokoknya, sebagai hukuman, kamu nggak boleh main HP seminggu! Sekarang, masuk ke kamar! Belajar lebih giat lagi! Kerjakan ulang semua soal tadi sampai benar!” perintah Ibunya dengan nada final yang tak bisa diganggu gugat.
Lilia pun masuk ke kamar dengan lesu. Dia duduk di meja belajar, menatap buku Matematika yang penuh angka-angka membingungkan. Padahal, yang dia butuhkan saat ini bukan rumus perkalian, melainkan minyak kayu putih dan balsem.
Saat dia baru saja membuka halaman pertama, tiba-tiba...
“Kruyuk... kruyuk... dut!”
Lilia memejamkan mata. “Aduh... ronde keenam dimulai,” bisiknya pasrah.
Dia pun terpaksa belajar sambil jongkok di atas kursi, menahan gejolak revolusi di perutnya, sambil membayangkan besok-besok kalau ada MBG, dia akan memastikan dulu apakah ikan tongkolnya sudah benar-benar "bersahabat" dengan ususnya atau tidak. Sebuah pelajaran berharga bahwa makanan gratis memang bergizi, tapi kalau makannya rakus, nilainya pun jadi "habis" dimakan perut sendiri.


Baik
BalasHapus