Tragedi MBG: Antara Gizi, Toilet, dan Nilai Merah

 Tragedi MBG: Antara Gizi, Toilet, dan Nilai Merah

Nama bocah itu adalah Budi, seorang siswa kelas 4 SD yang cita-citanya sangat mulia: ingin menjadi astronot agar bisa makan tanpa perlu memikirkan gravitasi. Namun, hari itu, gravitasi justru menjadi musuh terbesarnya, terutama gravitasi yang menarik isi perutnya ke bawah akibat program MBG alias Makanan Bergizi Gratis.


Pagi itu, suasana kelas sangat ceria. Petugas sekolah datang membawa kotak-kotak makanan harum yang isinya sungguh menggoda: nasi putih pulen, ayam saus mentega, sayur bayam, dan yang paling istimewa adalah segelas susu kedelai murni. Budi, yang perutnya memang sudah seperti "lubang hitam" sejak pagi, langsung menyantap semuanya dengan kecepatan cahaya.

"Wah, ini baru gizi! Gratis lagi!" seru Budi sambil mengelap sisa susu di kumis tipisnya.

Namun, pepatah mengatakan "tak ada makan siang yang benar-benar gratis." Satu jam kemudian, saat pelajaran Matematika yang diajar oleh Pak Bambang yang super galak dimulai, perut Budi mulai memberikan sinyal aneh. Suaranya bukan lagi krucuk-krucuk lapar, melainkan suara berat seperti mesin diesel yang mau mogok. Groook... berrrr... dut!

"Aduh," bisik Budi sambil memegang perutnya. Wajahnya yang tadi merah segar berubah menjadi pucat pasi menyerupai warna tembok kelas yang belum dicat ulang selama sepuluh tahun.

"Budi! Maju ke depan, kerjakan soal pembagian ini!" seru Pak Bambang menggelegar.

Budi berdiri dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, menahan tekanan yang sudah berada di "pintu keluar." "Anu... Pak... saya izin ke toilet sebentar," pamit Budi sambil melakukan jalan pinguin yang sangat aneh.

Sepuluh menit di toilet, Budi merasa lega. Tapi baru saja ia duduk kembali di bangkunya, si perut kembali berdemo. Gluduk-gluduk! Kali ini suaranya lebih nyaring. Budi kembali angkat tangan. "Pak, putaran kedua!" teriaknya sambil berlari kencang.

Kejadian ini berulang sampai lima kali. Setiap kali Pak Bambang ingin memberikan tugas, Budi menghilang ke arah WC sekolah. Teman-temannya mulai berbisik, "Budi lagi latihan maraton ya dari kelas ke WC?"


Puncaknya adalah saat ulangan dadakan dimulai. Pak Bambang membagikan kertas soal. Budi baru sempat menuliskan namanya di pojok kanan atas ketika "panggilan alam" itu datang lagi dengan kekuatan sepuluh skala Richter. Budi langsung meletakkan pensilnya dan melesat keluar kelas tanpa permisi.

Saat Budi kembali dengan keringat dingin bercucuran di dahi, bel pulang sekolah berbunyi. Pak Bambang sudah mengumpulkan semua kertas ulangan. Budi melihat kertasnya sendiri: kosong melongpong, hanya ada namanya yang ditulis miring-miring karena menahan mulas.

"Budi, karena kamu tidak mengerjakan satu pun soal, nilaimu nol!" tegas Pak Bambang sambil menyerahkan kertas dengan angka merah besar yang seolah-olah mengejek Budi.

Sesampainya di rumah, bencana sesungguhnya dimulai. Sang Ibu, yang sudah menunggu di ruang tamu sambil memegang sapu (bukan untuk menyapu, tapi sebagai simbol otoritas), langsung meminta hasil sekolah hari itu.

"Mana hasil ulangan Matematika tadi?" tanya Ibu dengan nada suara rendah yang mengerikan.

Budi dengan tangan gemetar menyerahkan kertas berangka merah itu. Ibu terdiam sejenak. Matanya melotot sampai hampir lepas. "Nol? Budi! Ibu sudah kasih kamu sarapan, sekolah kasih kamu makanan gratis yang bergizi, tapi otak kamu isinya apa? Kenapa nilainya merah begini?!"

"Tapi Bu... ini semua gara-gara MBG," jawab Budi membela diri.

"Apa?! Kamu menyalahkan makanan bergizi? Makanan itu bikin pintar, bukan bikin bodoh!" teriak Ibu.

"Bukan begitu, Bu! Makanan itu memang bergizi, tapi perut Budi kaget! Usus Budi nggak siap menerima gizi sebanyak itu sekaligus. Akhirnya Budi bolak-balik ke WC sekolah. Di WC sekolah itu pintunya nggak bisa dikunci, jadi Budi harus nahan pintu pakai kaki sambil konsentrasi. Nggak sempat mikir rumus pembagian, Bu! Yang ada di otak Budi cuma gimana caranya supaya nggak 'meledak' di kelas!" jelas Budi panjang lebar dengan ekspresi sangat dramatis.

Ibu tidak mau dengar alasan. Baginya, nilai merah adalah dosa besar. "Nggak ada alasan! Kamu ini kebanyakan main! Sekarang, masuk kamar! Belajar lebih giat lagi! Jangan keluar sampai kamu hafal perkalian 1 sampai 10!"

Budi pun digiring ke kamar seperti tawanan perang. Pintu ditutup dengan keras. Budi duduk di depan meja belajarnya, menatap buku Matematika dengan lesu. Namun, baru saja ia membuka halaman pertama, perutnya kembali memberikan tanda-tanda "badai" susulan.

"Aduh... gizi ini benar-benar kuat sekali energinya," rintih Budi.

Ia menoleh ke arah pintu yang terkunci dari luar. "Ibuuu! Budi mau belajar, tapi musuh Budi datang lagi! Tolong buka pintunya, Budi mau ke WC!" teriaknya panik.

Ibu dari luar menjawab, "Jangan alasan mau kabur buat main! Diam di situ dan belajar!"


Budi hanya bisa pasrah. Sambil memegang perutnya yang mulas tiada tara, ia bergumam, "Ternyata, jadi anak pintar itu berat ya. Selain harus pintar hitung-hitungan, harus punya usus baja juga buat nampung makanan gratis."

Hari itu Budi belajar satu hal penting: Makanan Bergizi Gratis itu memang enak dan menyehatkan, tapi kalau dimakan berlebihan oleh perut yang biasa makan mi instan polosan, hasilnya bukan nilai seratus, melainkan nilai merah dan "maraton" ke kamar mandi yang tak berujung. Akhirnya, Budi pun belajar Matematika di dalam kamar sambil sesekali melakukan gerakan yoga dadakan demi menahan gejolak di perutnya.


0 Response to "Tragedi MBG: Antara Gizi, Toilet, dan Nilai Merah"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel