Cerita Ocil | Tragedi Pilot Kasur: Antara Awan dan Lantai Tegel

Tragedi Pilot Kasur: Antara Awan dan Lantai Tegel

Nama bocah itu adalah Kevin, seorang siswa kelas 4 SD yang imajinasinya setinggi langit, tapi nasibnya seringkali sekeras lantai semen. Kevin adalah tipe anak yang kalau tidur sudah seperti baling-baling bambu Doraemon; kepala di bantal saat mulai, tapi bisa pindah ke ujung kaki saat subuh. Ibunya sering bilang kalau Kevin tidur, kasurnya berasa sedang ikut lomba gulat bebas.


Malam itu, Kevin baru saja menonton film aksi tentang pilot pesawat tempur yang gagah berani. Sebelum tidur, dia sempat bergaya di depan cermin sambil memegang sisir, seolah-olah itu adalah walkie-talkie. "Roger, ganti! Kapten Kevin siap lepas landas ke alam mimpi!" serunya penuh semangat sebelum akhirnya terkapar di balik selimut gambar Transformers kesayangannya.

Tak butuh waktu lama bagi Kevin untuk masuk ke fase REM (Rapid Eye Movement), atau dalam bahasa emaknya: "Tidur ngebo."

Dalam mimpinya, Kevin bukan lagi bocah ingusan yang sering lupa bawa buku PR. Dia adalah Kapten Kevin "The Eagle," pilot pesawat jet paling canggih di dunia. Pesawatnya bukan sembarang pesawat; bodinya berwarna emas berkilau dan kursinya terbuat dari bantal bulu angsa yang empuk sekali. Di kokpit, tombol-tombolnya bukan tombol besi, melainkan deretan permen cokelat yang bisa dipencet sambil dimakan.

"Perhatian para penumpang, ini Kapten Kevin. Kita sedang berada di ketinggian sepuluh ribu kaki di atas Gunung Merapi. Silakan nikmati camilan cilok masing-masing," ucap Kevin dalam mimpinya sambil menggerak-gerakkan tuas kendali.


Di dunia nyata, tangan Kevin mulai bergerak-gerak liar. Dia mulai meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya. Jam weker berbentuk ayam jago hampir saja tersenggol jatuh, tapi Kevin (sang pilot mimpi) merasa dia sedang mengatur navigasi radar.

Tiba-tiba, suasana di mimpi berubah mencekam. Langit yang tadinya cerah mendadak mendung gelap gulita. Awan-awan berubah menjadi bentuk wajah Ibu Guru Matematika yang sedang memegang penggaris kayu panjang. "KEVIN! KERJAKAN PR-MU!" suara petir menggelegar di angkasa mimpi.

Pesawat jet emas Kevin mulai berguncang hebat. "Awas! Ada turbulensi nilai merah!" teriak Kevin dalam tidurnya. Kakinya mulai menendang-nendang udara, seolah sedang menginjak pedal rem pesawat. Selimutnya sudah melintir tidak karuan, melilit lehernya seperti syal musim dingin di kutub utara.

Di dalam mimpi, pesawat Kevin terkena tembakan rudal dari musuh yang tak terlihat. Sayap kirinya terbakar. "Mayday! Mayday! Pesawat hilang kendali! Kita jatuh! Kita jatuh!" teriak Kapten Kevin panik. Pesawat jet itu menukik tajam ke bawah dengan kecepatan cahaya. Kevin di dalam mimpi merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Dia mencoba meraih parasut, tapi yang dia temukan hanyalah bantal guling yang licin.

Detik-detik kritis pun tiba. Pesawat jet itu menabrak awan tebal dan langsung terjun bebas menuju lautan luas. "TIDAAAKKK! LONCAT SEMUANYAAAA!" teriak Kevin sekuat tenaga.

Bersamaan dengan teriakan "Loncat!" di dalam mimpinya, tubuh Kevin di dunia nyata benar-benar melakukan manuver ekstrem. Dia melakukan gulingan maut ke arah kanan, melewati batas suci pinggiran kasur yang sebenarnya sudah cukup lebar.

GUBRAAAKKKK!!!

Bunyi itu terdengar sangat solid. Bukan bunyi benda jatuh yang ringan, tapi bunyi seonggok daging dan tulang yang menghantam lantai tegel dengan sukses.



Kevin terbangun seketika. Matanya melotot. Dia tidak melihat kokpit pesawat emas, dia tidak melihat awan, dan dia tidak melihat Ibu Guru Matematika. Yang dia lihat adalah kaki meja belajar dan sebuah sandal jepit yang sudah buluk di bawah kolong tempat tidur.

"Aduh... pinggangku... oksigen... oksigen mana?" rintih Kevin sambil memegang pantatnya yang terasa panas seperti habis digebuk pakai gagang sapu.

Dia masih bingung. Pikirannya masih separuh di udara, separuh di lantai. "Tadi... tadi pesawatnya jatuh, kan? Kok lautannya keras banget? Mana airnya? Kok baunya malah bau karbol pembersih lantai?"

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka lebar. Ibu Kevin muncul dengan daster kebanggaannya dan rambut yang masih dibungkus handuk, wajahnya tampak panik sekaligus kesal.

"Kevin! Suara apa itu? Kamu mau meruntuhkan rumah ya malam-malam begini?" tanya Ibunya dengan nada tinggi khas sopran.

Kevin menoleh dengan muka melas, masih duduk bersila di lantai sambil memeluk bantal guling yang ikut 'terjun payung' bersamanya. "Bu... Kevin baru saja kecelakaan pesawat. Pesawat Kevin jatuh tertembak rudal Ibu Guru Matematika."

Ibunya terdiam sejenak, memandangi posisi Kevin yang mengenaskan, lalu menghela napas panjang. "Pesawat ndasmu! Itu makanya kalau mau tidur tuh doa dulu! Jangan nonton film perang terus. Ini jam tiga pagi, Kevin! Kamu jatuh dari kasur, bukan jatuh dari langit!"

"Tapi Bu, sakit banget... pantat Kevin rasanya gepeng," keluh Kevin sambil mencoba berdiri dengan kaki gemetar.

"Ya iyalah sakit! Kamu jatuhnya pas banget di atas tumpukan mainan robot-robotanmu sendiri itu! Lihat, itu tangan robotmu sampai patah gara-gara ketindih perutmu!" seru Ibu sambil menunjuk ke arah lantai.

Kevin melihat ke bawah. Benar saja, dia jatuh tepat di atas kotak mainan Lego dan robot-robotan plastiknya. Tak heran rasanya seperti tertusuk ribuan jarum. "Pantesan tadi di mimpi rasanya kayak mendarat di atas karang tajam," gumam Kevin sambil meringis.

Ibu Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sudah, cepat naik lagi ke kasur! Besok kalau telat bangun sekolah karena kualat tidur nggak doa, Ibu nggak mau tahu ya. Dan satu lagi, besok jangan tidur gaya pilot lagi, mending tidur gaya pindang saja, lebih aman buat keselamatan lantai rumah!"

Kevin merangkak naik ke atas kasur dengan susah payah. Dia memandangi tempat tidurnya yang kini berantakan seperti habis diterjang puting beliung. Dia menarik selimutnya kembali, tapi kali ini dia menjauh dari pinggiran kasur dan memilih untuk tidur di mepet tembok.

"Kayaknya besok-besok kalau mau mimpi naik pesawat, aku harus pakai sabuk pengaman di kasur," bisik Kevin pelan pada bantal gulingnya.


Malam itu, Kapten Kevin memutuskan untuk 'pensiun' jadi pilot. Dia pun kembali memejamkan mata, berharap mimpi berikutnya hanyalah mimpi menjadi kura-kura yang jalannya pelan dan tidak mungkin jatuh dari manapun. Namun, baru saja dia akan terlelap, dia teringat satu hal: kalau jadi kura-kura dan terbalik, dia tetap saja tidak bisa bangun.

"Ah, sudahlah. Mending mimpi makan es krim aja," gumamnya sebelum akhirnya mendengkur pelan, meninggalkan rasa senut-senut di pantatnya yang menjadi saksi bisu tragedi "Pilot Kasur" malam itu.


0 Response to "Cerita Ocil | Tragedi Pilot Kasur: Antara Awan dan Lantai Tegel"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel