-->

Tragedi Cinta Monyet Ocuill yang Membagongkan

 Tragedi Cinta Monyet Ocuill yang Membagongkan

PW Bisa lihat di Kumpulan PW

 

Bagi Anto, siswa kelas 2 SD yang cita-citanya berganti setiap minggu dari menjadi astronot hingga menjadi penjual es krim, hari Senin biasanya adalah hari yang menyebalkan. Upacara bendera membuatnya kepanasan, dan kaus kakinya selalu melorot. Namun, segalanya berubah ketika seorang anak perempuan baru bernama Sisi masuk ke kelasnya.

Saat Sisi melangkah masuk, Anto merasa dunia tiba-tiba berubah menjadi gerak lambat (slow motion). Sisi membawa tas punggung bergambar Frozen yang berkilauan dan rambutnya dikuncir dua dengan ikat rambut berbentuk stroberi. Di mata Anto, Sisi tidak berjalan, tapi terbang di atas awan.

"Dug-dug, dug-dug," bunyi jantung Anto. Ia panik. Ia mengira dirinya baru saja terkena penyakit langka akibat terlalu banyak makan permen cicak. Anto memegang dadanya dengan wajah pucat. Teman sebangkunya, Budi, berbisik, "Kenapa kamu, Nto? Kebelet pipis?"

Anto menggeleng lemah. "Bud, jantungku mau copot. Kayaknya aku keracunan bau penghapus."

Saat itu juga, Anto sadar. Ini adalah apa yang sering dibahas di sinetron yang ditonton neneknya: Cinta pada Pandangan Pertama. Masalahnya, Anto tidak tahu cara menjadi pria yang romantis. Referensinya hanya kartun hari Minggu.

Saat jam istirahat, Anto memutuskan untuk melakukan langkah besar. Ia ingin memberikan hadiah sebagai tanda perkenalan. Namun, ia tidak punya bunga. Yang ia punya di dalam tasnya hanyalah sebuah penghapus wangi berbentuk jeruk yang baru dibeli kemarin dan satu bungkus kerupuk ikan yang sudah remuk separuh.

Dengan gagah berani (meskipun lututnya gemetar seperti jeli), Anto menghampiri meja Sisi. Sisi sedang asyik menggambar bunga. Anto berdiri di depannya, lalu tanpa ba-bi-bu, ia meletakkan penghapus jeruk itu di atas meja Sisi dengan keras, seolah-olah sedang meletakkan surat tantangan duel.



"Ini buat kamu. Wangi. Jangan dimakan," ucap Anto dengan suara yang diusahakan seberat mungkin, tapi malah berakhir cempreng.

Sisi mendongak, matanya yang bulat mengerjap bingung. "Eh? Terima kasih, Anto. Tapi... aku sudah punya penghapus." 

Anto mendadak mati kutu. Otaknya mendadak macet. Untuk menutupi rasa malunya, Anto melakukan hal paling absurd yang pernah dilakukan seorang anak berusia 8 tahun: ia melakukan salto di depan Sisi. Sialnya, karena lantai kelas baru saja dipel, Anto terpeleset dan mendarat dengan posisi nungging tepat di depan sepatu Sisi.

Satu kelas tertawa terbahak-bahak. Wajah Anto merah padam, lebih merah dari saos bakso di kantin. Ia ingin menghilang saja ke dalam lubang semut. Namun, di luar dugaan, Sisi justru tertawa kecil dan membantunya berdiri.

"Kamu lucu, Anto. Kayak badut di ulang tahun sepupuku," kata Sisi sambil tersenyum manis.

Mendengar kata "badut", Anto seharusnya tersinggung. Tapi karena yang mengatakannya adalah Sisi, Anto malah merasa itu adalah pujian setinggi langit. Baginya, menjadi badut pribadi Sisi jauh lebih keren daripada menjadi astronot.



Sejak hari itu, "Cinta Monyet" Anto pun bersemi. Setiap hari ia rajin menyisir rambutnya dengan minyak rambut orang tuanya sampai klimis, hanya agar Sisi bisa melihat pantulan dirinya di jidat Anto yang mengkilap. Itulah cinta pertama Anto: sederhana, memalukan, dan beraroma penghapus jeruk.

0 Response to "Tragedi Cinta Monyet Ocuill yang Membagongkan"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel