CerPenCil Kekinian | Aku, Boneka, dan Percakapan Rahasia di Malam Hari

 Aku, Boneka, dan Percakapan Rahasia di Malam Hari


Kinan adalah gadis kecil berusia enam tahun yang memiliki imajinasi seluas samudra. Baginya, "Momo" boneka beruang cokelat yang telinganya sudah robek sebelah bukan sekadar benda mati. Momo adalah saksi bisu, penasihat hukum, sekaligus sahabat terbaiknya.


Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Kinan duduk bersila di atas kasur, menempatkan Momo di hadapannya. Ia sedang mengadakan "sidang darurat". Ayah Kinan, yang baru saja pulang kerja, berdiri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, berniat memberikan kejutan cokelat, namun langkahnya terhenti mendengar suara Kinan yang sangat serius.


"Momo, kamu harus jujur," bisik Kinan dengan nada menginterogasi. "Tadi kamu lihat kan, Ibu nangis di dapur waktu potong bawang? Tapi aku tahu itu bukan karena bawang. Bawangnya nggak jahat, Momo."


Kinan kemudian mengubah suaranya menjadi berat, seolah-olah Momo yang menjawab. "Mungkin Ibu kangen Ayah, Kinan. Kan Ayah pulangnya malam terus."


"Tapi kan Ayah kerja cari uang buat beli susu aku dan beli kapas buat isi perut kamu yang sudah kempes!" Kinan membela ayahnya. "Momo, kamu nggak boleh egois. Ayah itu pahlawan, meskipun pahlawannya sering ketiduran kalau aku ajak main petak umpet."


Di luar pintu, Ayah Kinan tersenyum pedih. Ia merasa tertusuk oleh kejujuran anaknya sendiri.


"Momo," suara Kinan merendah, terdengar lebih rapuh. "Aku punya rahasia. Tadi di sekolah, aku nggak sengaja jatuhin botol minum temanku sampai pecah. Aku takut bilang Ibu. Aku takut Ibu tambah sedih. Jadi, aku bilang ke Ibu kalau botolnya hilang diambil hantu sekolah."


Kinan terdiam sejenak, lalu ia memeluk Momo dengan sangat erat. "Momo, apa hantu sekolah bakal marah kalau aku fitnah? Apa Tuhan bakal marah kalau aku bohong demi Ibu nggak nangis lagi? Aku cuma mau Ibu senyum, Momo. Aku mau kita bertiga makan malam sambil ketawa, nggak ada yang lihat jam terus, nggak ada yang lihat HP terus."


Keheningan menyelimuti kamar itu. Kinan kemudian mulai bernyanyi kecil, lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan ibunya, tapi liriknya ia ganti sendiri.


"Nina bobo, oh Nina bobo... kalau tidak bobo, nanti Ayah kerja terus... kalau Ayah kerja terus, nanti Ibu sepi... kalau Ibu sepi, Kinan jadi sedih..."


Air mata Ayah Kinan jatuh tak terbendung. Keluguan Kinan yang mencoba menanggung beban emosional orang tuanya dengan caranya yang polos sungguh menyesakkan dada. Ia menyadari bahwa selama ini, di mata anaknya yang kecil, keberadaannya sangatlah dinanti, lebih dari sekadar uang atau susu.


Ayah Kinan kemudian mengetuk pintu perlahan. Kinan terperanjat dan langsung menyembunyikan Momo di balik bantal.


"Eh, Ayah! Kapan datang? Hantu sekolah nggak ikut kan?" tanyanya dengan mata berkedip-kedip polos, berusaha menutupi jejak percakapannya.


Ayah masuk, berlutut, dan memeluk Kinan bersama boneka Momo-nya. "Enggak, Sayang. Ayah sudah usir hantu sekolahnya. Dan Ayah minta maaf ya, karena sering bikin Momo dan Kinan nunggu."


Kinan menatap ayahnya dengan binar mata yang murni. "Ayah denger ya? Momo yang kasih tahu Ayah?"


"Iya, Momo tadi bisikin Ayah di luar pintu," jawab Ayah sambil mencium kening Kinan.


Kinan menoleh ke arah bantal tempat Momo bersembunyi dan berbisik, "Momo, kamu ember ya! Tapi nggak apa-apa, kali ini kamu pintar."


Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

Malam itu berakhir dengan tawa kecil Kinan saat ayahnya menggelitikinya, sebuah momen sederhana yang mengubah rasa lelah menjadi kekuatan. Ternyata, percakapan rahasia seorang anak dan bonekanya adalah cermin paling jujur bagi orang dewasa untuk melihat kembali apa yang sebenarnya paling berharga dalam hidup: waktu dan kehadiran.


0 Response to "CerPenCil Kekinian | Aku, Boneka, dan Percakapan Rahasia di Malam Hari"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel