Dracil Kekinian | Si Cantik Belepotan: Drama Es Krim Cokelat yang Berakhir Tragis
Si Cantik Belepotan: Drama Es Krim Cokelat yang Berakhir Tragis
Namanya Alesha. Usianya baru lima tahun, tapi gaya bicaranya sudah seperti pengamat politik di televisi, dan selera fashion-nya sudah seperti model yang mau melenggang di runway Paris. Pagi itu, Alesha tampil maksimal. Ia mengenakan gaun tutu berwarna putih salju yang mekar seperti bunga mawar, bando kelinci yang telinganya bisa bergerak-gerak, dan sepatu bot kecil yang mengkilap.
"Papa," panggil Alesha dengan nada anggun sambil menatap ayahnya, Pak Bambang, yang baru saja selesai memakai kaus oblong favoritnya yang sudah bolong di ketiak. "Hari ini Alesha ingin makan gelato. Tapi yang cokelatnya hitam pekat seperti masa depan penjahat, ya?"
Pak Bambang tertegun. "Masa depan penjahat? Kamu dengar dari mana kata-kata itu, Nak?"
"Dari TV, Pa. Katanya es krim cokelat itu bisa meningkatkan hormon kebahagiaan bagi wanita karir seperti Alesha," jawabnya polos sambil menenteng tas plastik kecil berisi sisir dan karet gelang.
Maka, berangkatlah mereka ke kedai gelato paling hits di pusat kota. Di sepanjang jalan, Alesha duduk tegak di mobil. Ia berkali-kali merapikan gaunnya yang putih bersih. "Pa, jangan ngebut-ngebut. Nanti tatanan rambut Alesha kena angin AC, jadinya tidak estetik lagi," protesnya saat Pak Bambang hanya melaju 40 km/jam.
Sampai di kedai, Alesha langsung menuju konter. Dengan tinggi badan yang hanya sebatas pinggang pelayan, ia berteriak lantang, "Mbak, satu es krim cokelat paling besar! Pakai cone ya, jangan pakai cup. Cup itu untuk orang yang tidak punya jiwa petualang!"
Pelayan toko itu tertawa gemas. Pak Bambang sudah merasa ada firasat tidak enak. Es krim cokelat pekat, anak kecil, dan gaun putih salju? Itu adalah resep sempurna untuk sebuah bencana nasional.
"Alesha, yakin nggak mau pakai cup aja? Nanti tumpah ke baju loh," saran Pak Bambang.
Alesha menoleh dengan tatapan meremehkan. "Papa, tenang saja. Alesha adalah anak yang elegan. Alesha tidak akan membiarkan satu tetes pun cokelat ini mengkhianati gaun putih ini."
Es krim itu datang. Besar, bulat, dan mulai meleleh karena suhu ruangan yang agak hangat. Alesha menerimanya dengan bangga. Ia duduk di kursi tinggi, menyilangkan kakinya, lalu mulai melakukan ritual makan es krimnya yang "elegan".
Satu jilatan pertama: sukses. Alesha tersenyum penuh kemenangan. Mukanya masih bersih.
Jilatan kedua: es krim mulai meluncur ke samping. Alesha mencoba mengejarnya dengan lidahnya, tapi malah mengenai ujung hidungnya.
"Aduh, Pa! Hidung Alesha kena serangan cokelat!" serunya kaget.
"Nah, kan. Sini Papa lap," kata Pak Bambang.
"Jangan! Papa nanti malah merusak foundation Alesha!" (Padahal dia cuma pakai bedak bayi). Alesha mencoba membersihkan hidungnya sendiri dengan punggung tangannya. Bukannya bersih, cokelat itu malah melebar ke pipi kiri.
Di sinilah komedi dimulai. Alesha mulai panik karena es krimnya meleleh lebih cepat dari kecepatan jilatannya. Ia mulai menyerang es krim itu secara membabi buta. Lidahnya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti wiper mobil saat hujan badai.
Slurp! Hap! Nyot!
"Alesha, pelan-pelan, Sayang. Ingat, kamu tadi bilang mau ele—"
Belum sempat Pak Bambang menyelesaikan kalimatnya, tragedi pertama terjadi: Brain Freeze.
Alesha tiba-tiba mematung. Matanya melotot, mulutnya menganga, dan satu tangannya memegang dahi. Es krim cokelat yang ada di tangannya miring 45 derajat. Tetesan cokelat yang kental mulai terjun bebas seperti terjun payung, dan mendarat tepat di atas gaun tutu putihnya yang suci bersih.
"Aaaa... Pa... otaku... otaku membeku..." rintih Alesha dengan wajah yang sudah penuh coretan cokelat. Ia terlihat seperti habis ikut latihan perang hutan daripada makan es krim.
"Alesha, es krimnya miring!" teriak Pak Bambang.
Alesha kaget dan mencoba menegakkan cone-nya. Tapi karena tangannya sudah lengket, pegangannya licin. Cone itu malah meluncur dari tangannya, terpental ke meja, lalu melakukan manuver salto di udara sebelum akhirnya mendarat dengan suara pluk! di atas sepatu bot mengkilapnya.
Keheningan melanda kedai es krim itu selama tiga detik.
Alesha menatap sepatunya yang kini tertutup gundukan cokelat. Ia menatap gaunnya yang kini punya motif polkadot cokelat yang tidak direncanakan. Ia menatap tangannya yang sudah seperti sarung tangan kulit warna cokelat.
Wajahnya yang tadi tampak sok dewasa, kini berkerut. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Tragis, Pa... ini sangat tragis," bisiknya dengan suara bergetar.
Pak Bambang ingin tertawa sekuat tenaga, tapi rasa kasihan melihat putrinya yang malang itu lebih besar. "Nggak apa-apa, Nak. Nanti kita cuci ya."
"Bukan bajunya, Pa!" Alesha mulai terisak. "Es krimnya jatuh sebelum Alesha tahu rasa bagian bawah cone-nya! Kenapa dunia ini begitu kejam pada anak cantik seperti aku?!"
Tangisannya pecah. Tapi karena wajahnya penuh cokelat, air matanya menciptakan jalur-jalur putih di tengah pipinya yang cokelat, membuatnya terlihat seperti harimau yang sedang galau. Orang-orang di sekitar mulai menahan tawa melihat penampakan "Bocil Cantik" yang kini sudah mirip anggota pasukan khusus yang sedang menyamar di kebun cokelat.
Pak Bambang segera menggendong Alesha. Di dalam pelukan ayahnya, Alesha masih sempat-sempatnya bergumam dengan sisa-sisa isak tangisnya.
"Pa... nanti kalau kita pulang, bilang ke Mama kalau Alesha tadi habis menyelamatkan seekor kucing dari genangan lumpur cokelat, ya? Jangan bilang kalau Alesha belepotan karena nggak bisa makan es krim."
"Kenapa harus bohong, Sayang?" tanya Pak Bambang sambil tertawa kecil.
"Karena seorang princess boleh kalah dalam pertempuran es krim, tapi dia tidak boleh kehilangan martabatnya di depan Mamanya," jawab Alesha sambil mengelap sisa cokelat di pipinya ke bahu kaus bolong Pak Bambang.
Pak Bambang hanya bisa geleng-geleng kepala. Sayang dan lucu bercampur jadi satu. Hari itu, kedai gelato menjadi saksi bisu bahwa sehebat apa pun seorang "Bocil Cantik" menjaga penampilannya, kekuatan gravitasi dan dinginnya es krim cokelat akan selalu menang.
Sesampainya di mobil, Alesha melihat kaca spion dan berteriak, "Wah! Pa, lihat! Kumis cokelat Alesha lebih tebal dari kumis Papa!"
Premium Mystery Box
Dan tawanya pun pecah, menutupi "tragedi" yang baru saja terjadi. Pak Bambang tersenyum lebar, menyadari bahwa meski gaun putih itu rusak, tawa polos anaknya adalah kebahagiaan yang jauh lebih manis dari es krim cokelat mana pun di dunia.




0 Response to "Dracil Kekinian | Si Cantik Belepotan: Drama Es Krim Cokelat yang Berakhir Tragis"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "