Cerpencil Kekinian | Wajah Cokelat dan Drama Es Krim yang Meleleh Duluan
Wajah Cokelat dan Drama Es Krim yang Meleleh Duluan
Nana adalah seorang siswi kelas 2 SD yang memiliki prinsip hidup lebih teguh daripada karang di lautan: "Satu hari tanpa cokelat adalah hari menuju kiamat." Bagi Nana, cokelat bukan sekadar rasa, melainkan identitas. Rambutnya sering dikuncir dua dengan ikat rambut warna pink yang sudah mulai pudar, dan giginya ompong dua di depan sebuah konfigurasi wajah yang sangat mendukung untuk melakukan negosiasi tingkat tinggi dengan tukang es krim.
Siang itu, matahari di atas langit Tangerang sedang galak-galaknya. Panasnya tidak main-main, cukup untuk menggoreng kerupuk di atas kap mobil. Nana berdiri di depan minimarket dengan memegang selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan bau terasi. Uang itu adalah hasil "investasi" jangka panjang selama tiga hari dengan cara menahan diri tidak membeli cilok dan tidak menyewa jasa "gendong tas" dari kakaknya.
"Pak, es krim cokelat yang paling gede, yang kalau dimakan bikin lupa PR Matematika, ada?" tanya Nana kepada kasir dengan wajah super serius. 21072026
Si kasir tertawa, menunjuk ke kulkas. Nana memilih es krim "Mega-Choco-Lava-Boom", sebuah es krim cone raksasa yang dilapisi cokelat tebal dengan saus karamel di dalamnya. Harganya pas sepuluh ribu. Tanpa pikir panjang, Nana membayarnya. Ini adalah momen inspiratif bagi Nana: hasil kerja keras membuahkan kemanisan.
Namun, drama dimulai saat Nana melangkah keluar dari pintu otomatis minimarket. Begitu udara dingin AC berganti dengan hawa neraka bocor di parkiran, musuh bebuyutan Nana muncul: Hukum Fisika.
Hanya dalam waktu tiga menit berjalan kaki menuju halte, es krim itu mulai menunjukkan tanda-tanda "menyerah". Tetesan pertama jatuh tepat di jempol kaki Nana yang memakai sandal jepit swallow.
"Eh! Kok nangis?" seru Nana panik. Dia melihat es krimnya mulai meleleh dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Alih-alih langsung memakannya dengan lahap, Nana justru menunjukkan kepolosan yang cerdik sekaligus membagongkan. Dia berpikir, “Kalau es krim ini meleleh karena panas, aku harus meniupnya biar dingin!” Maka, di tengah trotoar, Nana berhenti dan mulai meniup-niup es krimnya sekuat tenaga. Bukannya beku kembali, tiupan napas Nana yang hangat justru mempercepat proses likuifaksi sang es krim.
"Aduh, aduh! Jangan tumpah ke jalan, mubazir!" gumamnya.
Nana mulai menjilati pinggiran cone dengan kecepatan cahaya. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bagian atas cokelat kerasnya tiba-tiba retak dan jatuh. Bukan jatuh ke tanah, tapi jatuh tepat ke kerah seragam putih merahnya.
Di titik ini, suasana berubah menjadi menyedihkan sekaligus menjengkelkan. Nana mulai menangis pelan, tapi tangisannya tidak membuatnya berhenti makan. Dia menangis sambil terus menjilati lelehan cokelat yang sudah membasahi tangannya sampai ke siku. Pemandangannya sangat tragis: seorang anak kecil, menangis sesenggukan, dengan wajah yang sudah berubah menjadi "peta buta" dari lelehan cokelat.
"Kenapa... hik... kamu... hik... lemah banget sih es krim!" omel Nana pada es krim di tangannya. Dia marah pada benda mati, sebuah momen yang sangat menjengkelkan bagi siapapun yang melihatnya karena Nana lebih memilih ngomel daripada segera menghabiskannya.
Lalu muncullah ide "cerdik" bin ajaib di kepala Nana. Dia merasa sayang jika cokelat yang meleleh di tangannya terbuang percuma. Maka, dia mengusapkan tangannya yang penuh lelehan cokelat itu ke seluruh wajahnya. Logika Nana: “Kalau di muka, nanti bisa kujilat pelan-pelan sambil nonton kartun di rumah.”
Kini, wajah Nana tidak lagi terlihat seperti anak SD. Dia lebih mirip anggota pasukan khusus yang sedang menyamar di hutan berlumpur cokelat, atau mungkin lebih mirip korban ledakan pabrik Milo. Hanya matanya yang berkedip-kedip polos di balik topeng cokelat yang mulai mengering terkena angin.
Saat sedang asyik "mengamankan" sisa es krim di wajahnya, tiba-tiba Bu Retno, guru agamanya yang paling disiplin, lewat di depannya.
"Nana? Itu kamu?" tanya Bu Retno kaget, nyaris menjatuhkan tas belanjanya.
Nana terdiam. Dia ingin menyapa, tapi dia sadar kalau dia membuka mulut, lelehan cokelat di dagunya akan jatuh ke aspal. Maka, dengan sangat cerdik (menurutnya), Nana hanya memberikan jempol sambil bergumam, "Mmmph... mmmph..." (yang artinya: "Sore, Bu!").
"Kamu habis ngapain, Nak? Habis masuk ke dalam tong cokelat?" tanya Bu Retno antara ngeri dan pengen ketawa.
Nana akhirnya menelan ludah dan menjawab dengan suara bindeng karena hidungnya tersumbat cokelat, "Lagi nabung, Bu. Ini es krimnya mau kabur, jadi saya kandangin di muka."
Jawaban itu membuat Bu Retno istighfar berkali-kali sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar. Beliau mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan mencoba membersihkan wajah Nana. Di sinilah momen kocak itu memuncak. Ternyata, di balik lapisan cokelat itu, ada sisa-sisa saus karamel yang sangat lengket. Ketika disapu tisu, tisu tersebut malah menempel di pipi Nana, membuatnya terlihat seperti punya jenggot kertas putih.
Nana mulai panik lagi. "Bu! Saya jadi monster tisu ya?"
Akhirnya, Nana pulang dengan penampilan paling membagongkan sepanjang sejarah perumahannya: seragam penuh noda cokelat, wajah setengah cokelat setengah tisu, dan tangan yang masih terasa lengket.
Sesampainya di rumah, ibunya sudah berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang. "NANA! KAMU HABIS MAIN DI SELOKAN COKELAT?!"
Nana hanya menunduk, menatap cone es krim yang sekarang sudah kosong melompong. Dia mendongak, menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata dengan polosnya, "Mah, es krimnya yang mulai duluan. Dia meleleh sebelum aku siap mental. Jadi aku ajak berantem saja."
Ibunya yang tadinya ingin marah besar, mendadak lemas. Marah tapi ingin ketawa itu rasanya sesak. Akhirnya, sang ibu menyeret Nana ke kamar mandi. Sambil diguyur air, Nana masih sempat-sempatnya menjilat bibirnya yang masih ada sisa rasa cokelat.
"Enak, Na?" tanya ibunya sinis.
"Enak, Mah. Tapi besok-besok aku mau beli es krim yang pakai mangkok aja. Biar kalau dia nangis, ada wadahnya," jawab Nana santai.
Premium Mystery Box
Pelajaran hari itu bagi Nana: Es krim mungkin bisa meleleh, harga diri mungkin bisa hilang di depan guru agama, tapi rasa cokelat di wajah adalah kenangan yang (literally) sulit dilepaskan. Sebuah drama siang bolong yang melelahkan, menjengkelkan, tapi setidaknya, perut Nana kenyang meskipun lewat pori-pori wajah.



0 Response to "Cerpencil Kekinian | Wajah Cokelat dan Drama Es Krim yang Meleleh Duluan"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "