Cerpencil | Saat Tuhan Dikirimi Surat Cinta oleh Anak TK

Saat Tuhan Dikirimi Surat Cinta oleh Anak TK


Lala adalah definisi dari "bibit unggul" yang salah asuhan logika. Wajahnya cantik luar biasa, seperti boneka porselen dengan pipi kemerahan, mata bulat berbinar, dan rambut dikuncir dua dengan pita pink yang selalu tegak seperti antena pemancar sinyal gaib. Siapa pun yang melihat Lala pasti ingin mencubitnya. Namun, di balik kecantikan paripurna itu, isi kepala Lala adalah sebuah misteri labirin yang bahkan Einstein pun mungkin akan menyerah jika mencoba memahaminya.


Suatu sore, suasana di rumah Lala terasa begitu kelabu. Memprihatinkan, tepatnya. Mama Lala terduduk di meja makan dengan mata sembab. Di depannya berserakan tumpukan kertas berwarna merah dan kuning surat tagihan bank, cicilan motor yang menunggak tiga bulan, dan biaya kontrakan yang belum terbayar. Ayah Lala hanya bisa menghela napas panjang sambil memandang motor matic-nya yang mogok dan sudah mulai berkarat di teras.


Lala, yang sedang mengunyah kerupuk kaleng dengan anggun, mengamati pemandangan menyedihkan itu. Dalam logika mungilnya, dia menyimpulkan satu hal: Mama menangis karena tidak punya "kertas ajaib" (uang) untuk membeli kebahagiaan.


"Ma, kenapa nangis? Karena cicilan?" tanya Lala polos, meskipun dia tidak tahu "cicilan" itu makanan atau jenis hewan melata.


"Lala sayang, doakan Mama ya supaya Tuhan kasih rezeki," jawab Mamanya sambil memeluk Lala erat.


Lala terdiam. Otaknya yang unik mulai berputar. Dia ingat kata Bu Guru di TK: "Tuhan itu Maha Pengasih dan penyayang." Lala berpikir, kalau mau minta sesuatu pada orang yang penyayang, cara terbaik adalah dengan merayu. Dan cara merayu paling ampuh yang dia tahu dari menonton sinetron bersama neneknya adalah dengan surat cinta.


Malam itu, dengan penuh kesungguhan yang mengalahkan mahasiswa tingkat akhir sedang skripsi, Lala mulai menulis. Karena dia baru belajar menulis huruf besar-besar dan sering tertukar antara huruf 'B' dan 'D', surat itu menjadi sebuah mahakarya yang artistik sekaligus membingungkan.


Isi suratnya begini:


"HALO TUHAN YANG GANTENG. INI LALA YANG CANTIK. TUHAN, MAMA LAGI SEDIH KARENA SURAT MERAH. PAPA JUGA SEDIH MOTORNYA BATUK-BATUK. TUHAN KAN KAYA, BOLEH GAK LALA PINJAM UANG SATU TRILIUN? TAPI KALAU GAK ADA, KASIH SERATUS RIBU AJA BUAT BELI ES KRIM SAMA BAYAR MOTOR. TUHAN, I LOVE YOU FULL. MUACH! DARI PACAR KECILMU, LALA."


Di bagian bawah, Lala menggambar dirinya sedang memegang tangan sosok tinggi besar bermahkota yang dia asumsikan sebagai Tuhan, tapi lebih mirip raksasa sedang memegang sapu lidi.


Masalah muncul: bagaimana cara mengirimnya? Lala ingat ayahnya pernah bilang kalau doa itu "naik ke langit". Maka, surat itu harus naik ke langit.


Esok paginya, dengan langkah penuh percaya diri, Lala membawa surat itu ke sekolah. Di tasnya, dia sudah menyiapkan "alat transportasi" untuk surat tersebut. Bukan burung merpati, bukan pula balon gas. Lala membawa seekor katak pohon hijau yang dia tangkap di kamar mandi subuh tadi.


Kenapa katak? Karena menurut logika Lala, katak bisa melompat tinggi. "Kalau dia lompat terus, nanti sampai ke awan," pikirnya tanpa dosa.


Saat jam istirahat, di halaman sekolah yang ramai, Lala melakukan ritual pengiriman. Teman-temannya berkumpul.

"Lala, itu kataknya mau diapain?" tanya Riko, bocah yang ingusnya selalu abadi di bawah hidung.


"Sstt! Aku mau kirim surat cinta buat Tuhan. Katak ini kurirnya," jawab Lala serius.


Dia melipat suratnya menjadi sangat kecil, lalu dengan teganya namun penuh kasih dia menempelkan surat itu ke punggung si katak menggunakan selotip bening hampir seisi rol. Si katak yang malang itu kini tampak seperti memakai ransel raksasa dan tidak bisa bergerak luwes.


"Ayo lompat, Kurir Tuhan! Lompat ke langit!" perintah Lala.


Namun, si katak bukannya melompat ke langit, malah melompat masuk ke dalam lubang selokan. Lala tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca. "Yah... suratnya malah dikirim ke kerajaan bawah tanah," gumamnya sedih. Suasana berubah melankolis. Lala jongkok di depan selokan, memikirkan nasib Mama dan cicilan motornya yang kini mungkin akan ditangani oleh penguasa got.


Melihat Lala sedih, teman-temannya berusaha menghibur. Tapi Lala tetap diam. Dia merasa gagal menjadi pahlawan keluarga. Kesedihan itu bertahan sampai dia pulang sekolah.


Sesampainya di rumah, Lala melihat ada kurir paket asli sedang berdiri di depan pagar. Kurir itu memberikan sebuah kotak besar kepada Mamanya. Ternyata itu hadiah dari tantenya di luar kota yang berisi sembako dan sedikit uang bantuan. Mama Lala tersenyum bahagia, bahkan menangis haru.


Lala melongo. "Wah! Suratnya sampai!" teriaknya kegirangan. Dia yakin katak tadi berhasil menemukan jalan pintas lewat saluran air menuju surga.


Keberhasilan ini membuat kepercayaan diri Lala naik ke level yang berbahaya. Dia merasa punya "jalur khusus" dengan Sang Pencipta. Dan sebagai ucapan terima kasih, Lala memutuskan melakukan satu tindakan konyol terakhir yang membuat ayahnya hampir pingsan.


Sore itu, Ayah Lala sedang mencoba memperbaiki mesin motornya yang mogok. Tiba-tiba, dia melihat Lala keluar dari dapur membawa botol parfum mahal milik Mamanya dan sebotol saus sambal.


"Lala, mau ngapain?" tanya Ayah curiga.


Lala tidak menjawab. Dengan wajah yang sangat cantik namun ekspresi yang sangat 'psikopat', dia menyemprotkan seluruh botol parfum itu ke knalpot motor Ayahnya, lalu mengoleskan saus sambal ke jok motor.


"Lala! Kamu ngapain, Nak?!" teriak Ayahnya histeris.


Lala menoleh dengan senyum paling manis sedunia, matanya berkedip manja. "Lala lagi dandanin motor Papa, Yah. Kata Bu Guru, Tuhan suka hal yang wangi dan bersih. Jadi motornya Lala kasih parfum supaya Tuhan betah duduk di sini dan motornya jadi cepat sembuh. Terus saus sambalnya itu biar motor Papa 'pedas' larinya kaya pembalap Moto-GP!"


Lalu, dengan polosnya, Lala mencium knalpot motor itu sambil bergumam, "Tuhan, titip motor Papa ya, jangan lupa ganti olinya pakai sirup stroberi biar manis."


Premium Mystery Box
Edisi Terbatas • YTTAChuill
⚠️ Perhatian: Mystery Box eksklusif Ambil dan Dapatkan Sebelum Terlambat hehehe... Gasken Yuk Gays!!!

Ayahnya hanya bisa terduduk lemas di aspal, memegang kunci pas, antara ingin marah karena parfum istrinya seharga satu juta ludes, atau tertawa melihat tingkah bocil cantik yang logikanya sudah melampaui batas atmosfer bumi ini. Sementara itu, Lala dengan santainya kembali masuk ke rumah, bersenandung pelan, yakin bahwa besok motor ayahnya tidak hanya akan jalan, tapi mungkin bisa terbang sampai ke Mars.


0 Response to "Cerpencil | Saat Tuhan Dikirimi Surat Cinta oleh Anak TK"

Posting Komentar

Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel