Ngakak !!! Preman Cupu, Malak Bocil di Kasih Permen Kematian
Ngakak !!! Preman Cupu, Malak Bocil di Kasih Permen Kematian
Di sebuah gang sempit yang dikenal dengan nama Gang Senggol, hiduplah seorang preman kawakan bernama Bang Garong. Nama aslinya sebenarnya Sugeng, tapi karena wajahnya yang sangar, kumis tebal melintang mirip sapu ijuk, dan tato naga di lengan kanannya yang kalau dia kedinginan tatonya lebih mirip cacing kepanasan, orang-orang lebih suka memanggilnya Bang Garong.
Sore itu, perut Bang Garong sedang keroncongan. Uang di sakunya hanya tersisa dua keping koin seribuan yang sudah tipis karena sering dipakai kerokan. Sambil menyandarkan tubuhnya di tembok yang penuh coretan, Bang Garong mengamati mangsa yang lewat.
"Hari ini sepi amat. Nggak ada yang bisa dipalak apa?" gerutu Bang Garong sambil mengelus perutnya yang bunyinya sudah seperti orkes dangdut keliling.
Tiba-tiba, dari ujung gang muncul seorang anak kecil bernama Adit. Adit adalah bocah kelas 2 SD yang terkenal sangat polos tapi punya logika yang kadang bikin orang dewasa pusing tujuh keliling. Adit berjalan dengan santai sambil menjinjing tas plastik kecil dan mengulum sebuah permen lolipop besar di mulutnya.
Bang Garong langsung berdiri tegak. Dia merasa inilah saatnya menunjukkan taringnya sebagai penguasa gang. Dia memasang wajah paling seram yang dia punya—mata melotot, lubang hidung kembang kempis, dan dada dibusungkan.
"Woi, Bocil! Berhenti lu!" teriak Bang Garong dengan suara berat yang dibuat-buat agar terdengar seperti karakter penjahat di film aksi.
Adit berhenti. Dia menoleh ke arah Bang Garong dengan tatapan datar, seolah-olah Bang Garong hanyalah tiang listrik yang mendadak bisa bicara. "Eh, Om Garong. Ada apa Om? Mau ngajak main petak umpet?" tanya Adit dengan suara cemprengnya.
Bang Garong hampir saja tersedak ludah sendiri. "Main petak umpet pala lu peyang! Gue ini preman! Gue mau malak lu. Sini, serahin semua uang yang lu punya!"
Adit mengerjapkan matanya yang bulat. "Uang? Om mau uang Adit?"
"Iya! Buruan, sebelum naga di lengan gue ini bangun dan nyembur lu!" gertak Bang Garong sambil memamerkan tatonya.
Adit bukannya takut, malah mendekat ke arah lengan Bang Garong. Dia mengamati tato itu dengan teliti. "Om, ini naga atau cacing pita? Kok nggak ada sayapnya? Terus kenapa mukanya mirip kucing tetangga saya yang lagi sembelit?"
Bang Garong langsung menutupi lengannya dengan malu-malu. "Udah, jangan banyak tanya! Mana duitnya?!"
Adit menghela napas panjang, lalu memasukkan tangannya ke kantong celana. Dia mengeluarkan kantong celananya yang ditarik keluar, menunjukkan bahwa kantong itu kosong melompong. "Yah, telat Om. Uang Adit tadi ada sepuluh ribu, tapi sudah habis."
Bang Garong melotot. "Habis buat apa?! Lu main judi online ya?"
"Bukan Om! Tadi pas lewat depan warung Mpok Jenab, Adit lihat permen lucu-lucu. Jadi Adit beli deh semuanya. Nih, lihat di plastik ini," kata Adit sambil menyodorkan tas plastiknya.
Bang Garong mengintip ke dalam plastik itu. Isinya bukan uang, bukan emas, apalagi berlian. Di dalamnya hanya ada tiga buah permen lolipop rasa stroberi dan dua bungkus permen kenyal Yupi yang bentuknya mirip burger dan buaya.
"Lu gimana sih! Gue minta duit, lu malah beli permen!" bentak Bang Garong, meski dalam hati dia sebenarnya tergoda melihat Yupi burger yang warnanya sangat cerah itu.
"Habisnya tadi uangnya sisa seribu, Om. Adit bingung mau beli apa, ya udah Adit beliin Yupi aja sekalian. Daripada uangnya hilang dijalan, mending jadi makanan kan?" jawab Adit dengan logika yang tak terbantahkan.
Bang Garong memijat keningnya. "Duh, pusing gue. Sekarang gimana? Gue laper, gue mau makan nasi padang, bukan makan karet kenyal kayak gini!"
Adit melihat wajah Bang Garong yang tampak frustrasi. Dengan wajah yang sangat tulus dan polos, Adit mengambil sebuah permen lolipop stroberi dan satu bungkus Yupi burger dari plastiknya, lalu menyodorkannya ke arah Bang Garong.
"Nih, buat Om aja. Jangan marah-marah terus, Om. Kata Mama, kalau orang dewasa marah-marah terus, itu tandanya dia kurang gula atau lagi laper. Karena Om laper dan nggak punya uang, nih Adit kasih permen Adit yang paling enak."
Bang Garong terdiam. Dia melihat tangan mungil Adit yang menyodorkan permen lolipop berwarna pink cerah itu. Perasaan Bang Garong campur aduk. Dia merasa gagal sebagai preman, tapi di sisi lain, dia memang sedang lapar dan butuh asupan gula.
"Lu beneran ngasih ini ke gue? Gue ini mau malak lu, lho!" kata Bang Garong dengan nada yang mulai melunak.
"Iya, Om. Anggap aja ini sedekah dari Adit buat Om Preman yang belum makan. Lagian, Om kalau pegang lolipop pink gini jadi kelihatan lebih imut, lho. Nggak serem lagi kayak tadi," ucap Adit sambil tersenyum lebar tanpa beban.
Mendengar kata "imut", pertahanan Bang Garong runtuh. Dia membayangkan dirinya yang berbadan besar, bertato, berkumis tebal, tapi berdiri di pinggir jalan sambil menghisap lolipop pink. Bayangan itu begitu konyol sehingga Bang Garong tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Bwahahahaha!" Bang Garong tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggelegar sampai burung-burung yang hinggap di kabel listrik terbang ketakutan.
"Aduh, Bocil... Bocil... Lu pinter banget ya ngeledek gue. Gue yang mau malak, malah gue yang dikasih santunan permen Yupi," kata Bang Garong sambil menyeka air mata karena tertawa terlalu keras.
Dia akhirnya mengambil permen itu. Bang Garong membuka bungkus Yupi burger kecil itu dan memakannya dalam sekali hap. "Enak juga ya. Kenyal-kenyal kayak janji manis mantan," gumamnya.
Adit ikut tertawa. "Nah, gitu dong Om, ketawa. Kalau ketawa kan naga di tangannya jadi nggak kelihatan kayak cacing lagi, tapi kayak naga yang lagi bahagia."
Bang Garong kembali tertawa. Dia duduk di pinggir jalan bersama Adit. Sang preman sangar dan bocah polos itu akhirnya malah asyik duduk berdua sambil mengulum lolipop. Orang-orang yang lewat di gang itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan ajaib tersebut: Bang Garong yang biasanya ditakuti, sekarang sibuk membandingkan rasa Yupi bentuk buaya dan bentuk burger dengan seorang anak kecil.
"Om, besok kalau Adit punya uang lagi, Om mau dipalak apa? Permen karet atau cokelat?" tanya Adit dengan nada sangat serius.
Bang Garong tersedak lolipopnya. "Kagak ada besok-besok! Besok lu lewat sini, gue yang kasih lu jajan. Malu gue ama tato naga gue kalau ketahuan malak spesialis Yupi!"
Sore itu, Gang Senggol menjadi saksi bahwa sekeras-kerasnya hati seorang preman, dia akan luluh juga oleh kepolosan seorang bocah yang memberikan permen lolipop dengan tulus. Bang Garong pulang dengan perut yang sedikit terisi gula, sementara Adit pulang dengan cerita bahwa dia baru saja memberikan "bantuan sosial" kepada preman yang kurang asupan manis.


0 Response to "Ngakak !!! Preman Cupu, Malak Bocil di Kasih Permen Kematian"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "