Bocil Jenius Einstein Muda yang Lagi Apes
Bocil Jenius Einstein Muda yang Lagi Apes
Di sebuah kampung yang tenang bernama Desa Sukamaju, hiduplah seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun bernama Bambang. Namun, jangan panggil dia Bambang biasa. Di sekolah dan lingkungan rumah, dia dijuluki "Bambang Einstein" atau "Bocil Jenius". Bayangkan saja, di saat anak-anak seusianya masih sibuk mengejar layangan atau main kelereng, Bambang sudah asyik membedah teori relativitas sambil ngemil kuaci.
Kamar Bambang adalah markas besar ilmu pengetahuan. Di meja belajarnya, tumpukan buku kalkulus bersaing dengan buku fisika kuantum. Cita-citanya mulia: ingin menciptakan mesin waktu agar dia bisa kembali ke masa lalu dan memberitahu dirinya sendiri jawaban ujian yang sebenarnya dia sudah tahu. Pokoknya, Bambang adalah kebanggaan Emak.
Emak Bambang, Mak Ijah, adalah sosok "Super Killer" yang disegani satu kecamatan. Mak Ijah memiliki pendengaran setajam kelelawar dan insting sekuat detektif FBI. Jika Bambang adalah jenius di bidang sains, Mak Ijah adalah profesor di bidang "Ilmu Piring Terbang" dan "Seni Sapu Lidi".
Suatu sore, Bambang mendapatkan hadiah atas prestasinya memenangkan olimpiade matematika tingkat galaksi... eh, maksudnya tingkat provinsi. Hadiahnya adalah sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Mak Ijah memberikan ponsel itu dengan satu syarat sakral: "Hanya boleh dipakai satu jam sehari setelah belajar!"
Bambang mengangguk mantap. "Siap, Mak! Teknologi adalah sarana penunjang riset, bukan penghambat intelektualitas," jawabnya dengan gaya bicara sok dewasa.
Satu jam pertama berjalan lancar. Bambang masih membaca jurnal ilmiah di internet. Dua jam kemudian, konsentrasinya mulai goyah. Jarinya tidak sengaja memencet sebuah aplikasi berwarna-warni. Dan di situlah petaka dimulai. Bambang terjebak dalam lubang hitam bernama... Game Online Mobile Legends.
"Wih, apa ini? Gusion? Wah, ini butuh perhitungan sudut parabola untuk melempar pisau," gumam Bambang mencoba merasionalisasi tindakannya.
Satu jam menjadi dua jam. Dua jam menjadi empat jam. Bambang benar-benar tersedot ke dalam layar ponselnya. Dia yang biasanya menghitung kecepatan cahaya, kini sibuk berteriak tanpa suara, "Savage! Savage! Woi, tank-nya mana?!"
![]() |
| ini yang kalian Cari Kan |
Bambang sangat cerdik. Agar tidak ketahuan Mak Ijah, dia melakukan teknik penyamaran tingkat tinggi. Dia meletakkan buku "Fisika Modern" setebal bantal di depannya. Di tengah-tengah buku itu, dia menyelipkan HP barunya. Dari depan, dia terlihat seperti sedang merenungkan rumus yang sangat rumit, padahal jempolnya sedang menari-nari lincah di atas layar.
"Bambang... sudah jam berapa ini? Kok masih hening?" suara Mak Ijah menggelegar dari dapur.
"Masih belajar, Mak! Ini lagi menghitung massa jenis benda cair yang dicampur dengan air mata kesedihan!" jawab Bambang berbohong demi menyelamatkan rank-nya yang hampir naik ke Epic.
Namun, Bambang lupa satu hal. Mak Ijah bukan emak-emak biasa. Mak Ijah merasakan ada frekuensi yang aneh. Suasana rumah terlalu tenang. Biasanya Bambang akan bergumam membacakan rumus, tapi ini kok malah ada suara samar-samar, "Welcome to Mobile Legends!"
Mak Ijah melepas daster perang-nya, menggantinya dengan langkah tanpa suara seperti seorang ninja dari klan Konoha. Dia mendekati kamar Bambang. Pintu tidak dikunci. Perlahan, sesosok bayangan besar muncul di balik punggung Bambang.
Bambang masih asyik. "Dikit lagi... mampus lo! Rasakan serangan ulti-ku!" bisik Bambang kegirangan.
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar terasa turun drastis. Bambang merasakan ada hawa dingin yang menusuk tengkuknya. Sebuah bayangan gelap menutupi cahaya lampu belajarnya. Bambang menoleh perlahan, lehernya terasa kaku seperti engsel pintu yang karatan.
Di sana, berdirilah Mak Ijah. Tangan kirinya memegang sapu lidi yang sudah dipoles mengkilap, tangan kanannya berkacak pinggang. Matanya menyipit, memancarkan sinar laser yang bisa melelehkan besi baja.
"Oh... jadi ini rumus massa jenis tadi? Massa jenis Jungler?" suara Mak Ijah rendah, tapi bergetar seperti gempa bumi.
"M-m-mak... ini... anu... Bambang lagi riset tentang dampak radiasi layar terhadap kesabaran manusia..." jawab Bambang, suaranya gemetar. Air mata mulai menggenang di matanya. Ini adalah momen "sedih" yang sangat tragis bagi seorang jenius.
"Riset ya? Bagus. Sekarang Emak kasih objek riset baru," kata Mak Ijah sambil menjewer telinga Bambang sampai si jenius itu berjinjit seperti balerina. "Riset tentang bagaimana cara menghilangkan noda kerak di toilet dan bagaimana menyapu debu sampai ke molekul terkecilnya!"
Tanpa ampun, ponsel Bambang disita dan dimasukkan ke dalam kaleng kerupuk yang digembok. Bambang diseret menuju gudang. Di sana, sudah menanti sebuah sapu lidi legendaris dan seember air sabun lengkap dengan sikat WC yang bulunya sudah mulai rontok.
"Sapu seluruh rumah! Jangan ada debu seukuran atom pun yang tersisa! Setelah itu, gosok toilet sampai licinnya bisa bikin lalat terpeleset!" titah Mak Ijah layaknya komandan perang.
Bambang menangis sesenggukan. "Dunia ini kejam! Aku adalah calon peraih Nobel, kenapa nasibku berakhir dengan sikat WC?!" ratapnya dalam hati.
Dia mulai menyapu. Setiap gerakan sapunya diiringi dengan gumaman rumus fisika untuk menghibur diri. "Gaya gesek antara sapu dan lantai berbanding lurus dengan kemarahan Emak..."
Puncak penderitaannya adalah saat dia harus membersihkan toilet. Bau karbol menyengat hidung jeniusnya. Dia melihat pantulan wajahnya di air toilet yang keruh. "Airmata ini... adalah H2O yang bercampur dengan penyesalan," isaknya sambil menggosok lantai toilet dengan penuh tenaga.
Tetangga yang lewat di depan rumah hanya bisa menggelengkan kepala melihat si bocah jenius sedang menjemur keset sambil menangis bombay. "Makanya Bang, jenius boleh, tapi jangan bohongin Emak. Doa Emak itu tembus sampai ke langit, tapi sapu Emak tembus sampai ke betis!" teriak mang Ujang, tukang bakso langganannya.
Bambang belajar satu hal penting hari itu: Seberapa pun tinggi IQ-mu, seberapa banyak pun buku yang kau baca, kau tidak akan pernah bisa menang melawan "Insting Ibu" yang didukung oleh "Sapu Lidi sakti".
Malamnya, Bambang tidur dengan punggung pegal-pegal. Sebelum tidur, Mak Ijah masuk ke kamarnya, membawakan segelas susu hangat dan mengembalikan ponselnya.
"Besok kalau mau main, bilang. Jangan sembunyi di balik buku. Ilmu itu berkah kalau caranya benar. Kalau caranya bohong, ilmu kamu cuma jadi daki di otak," kata Mak Ijah sambil mengelus kepala Bambang.
Bambang terharu. "Iya, Mak. Maafin Bambang."
Bambang membuka ponselnya sebentar. Ada notifikasi masuk: "Akun Anda terkena hukuman karena AFK (Away From Keyboard) saat pertandingan."
Bambang hanya bisa tertawa getir. "Sudah dihukum Emak, dihukum sistem game pula. Memang benar, menjadi jenius itu berat, tapi menjadi anak durhaka itu jauh lebih berat... dan pegal!"
Sambil memegang punggungnya yang encok, sang profesor cilik itu pun tertidur lelap, bermimpi sedang menciptakan robot otomatis yang bisa menyapu rumah dan membersihkan toilet, agar di masa depan dia bisa main HP dengan tenang. Tapi dia tahu, selama Mak Ijah masih ada, robot secanggih apa pun tidak akan bisa menggantikan fungsi "Sapu Lidi" dalam mendidik mentalitasnya.



0 Response to "Bocil Jenius Einstein Muda yang Lagi Apes"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "