Bojil Kekinian yang Jenius Akhirnya Kena Batunya
Bojil Kekinian yang Jenius Akhirnya Kena Batunya
Di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang bocah laki-laki berusia enam tahun bernama Dika. Dika bukan bocah sembarangan; di kampungnya, ia dijuluki "Profesor Cilik". Bagaimana tidak? Di saat teman sebaya masih sibuk main tanah, Dika sudah hobi membaca ensiklopedia dan menanyakan hal-hal berat seperti, "Ma, kenapa gravitasi tidak membuat air laut tumpah ke langit?"
![]() |
| Inikan yang Kalian Cuar!!! |
Suatu siang yang terik, Ibunya, Bu Ratna, sedang sibuk di dapur ingin membuat es kopyor. Sayangnya, stok kelapa muda di dapur habis. Melihat Dika yang sedang asyik meneliti semut pakai kaca pembesar, Bu Ratna mendapat ide.
"Dika, anak jenius kesayangan Mama, bisa tolong ambilkan satu butir kelapa muda di kebun belakang? Pilih yang ukurannya pas, yang kalau digoyang ada bunyi airnya secara ritmik," pinta Bu Ratna dengan nada sedikit merayu.
Dika bangkit, membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu menjawab dengan gaya intelek. "Siap, Ma. Secara teoretis, aku akan mencari buah dengan densitas air yang optimal untuk kualitas rasa es kopyor terbaik. Aku berangkat!"
Dengan langkah gagah bak penjelajah National Geographic, Dika menuju kebun belakang yang rimbun. Namun, baru saja ia sampai di bawah pohon kelapa, matanya menangkap sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar buah bulat berwarna hijau. Di balik selembar daun pisang yang menjuntai rendah, ada sebuah "spesimen" luar biasa.
Itu adalah seekor ulat bulu. Tapi bukan ulat bulu biasa di mata Dika. Ulat itu berwarna hijau neon dengan bulu-bulu putih tegak yang terlihat sangat eksotis, mirip seperti miniatur landak yang sedang menyamar jadi punker.
"Wah, luar biasa!" gumam Dika takjub. "Ini pasti spesies Lepidoptera yang sedang dalam fase larva dengan mekanisme pertahanan diri tingkat tinggi. Lihat cara dia bergerak, sangat aerodinamis untuk makhluk tanpa tulang belakang!"
Lupa akan tugas mulia mengambil kelapa, Dika justru jongkok di depan ulat tersebut. Ia mulai melakukan "observasi lapangan". Dika mengambil ranting kecil dan mulai mengelus-elus punggung ulat tersebut. Si ulat yang merasa terganggu mulai meliuk-liuk, yang menurut Dika adalah sebuah "tarian penyambutan".
"Oh, kamu mau berteman ya? Sini, ayo naik ke 'lab' portabelku," ujar Dika lugu sambil menyodorkan telapak tangannya.
Si ulat, yang memang diciptakan Tuhan dengan senjata kimia di bulunya, tanpa ragu menempel di tangan Dika. Dika merasa sedikit geli. "Sensasi taktil yang sangat menarik," pikirnya. Ia bahkan membawa ulat itu mendekat ke wajahnya untuk melihat detail matanya. Tak lama kemudian, ulat itu merayap ke leher Dika.
Satu menit... dua menit...
Tiba-tiba, "laboratorium" Dika mulai terasa panas. "Lho, kenapa ada reaksi eksotermik di kulitku?" gumamnya mulai panik. Rasa geli berubah menjadi rasa panas yang membakar, disusul oleh rasa gatal yang luar biasa dahsyat seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk leher dan tangannya.
Wajah jenius Dika langsung berubah pucat. Kulitnya yang putih mulai muncul bentol-bentol merah besar. Si "Profesor Cilik" kehilangan wibawanya seketika.
"MAMAAAAAA! TOLOOOONG! ADA SERANGAN BIOLOGI! MAMAAAAA!" teriak Dika sambil berlari tunggang-langgang menuju rumah. Ia berlari sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan menggaruk lehernya secara brutal, persis seperti orang yang sedang latihan tari piring tapi piringnya hilang.
Bu Ratna yang sedang asyik mengupas nangka kaget luar biasa mendengar teriakan histeris anaknya. Ia berlari ke pintu belakang. Di sana, ia melihat pemandangan yang sungguh... tragis, tapi jujur saja, sangat kocak.
Dika datang dengan air mata bercucuran, ingus yang mulai balapan keluar, dan tangan yang tidak bisa diam menggaruk seluruh tubuh. "Ma... gatal... panas... ulatnya jahat! Dia tidak ilmiah sama sekali, Ma! Huwaaaa!" tangis Dika pecah.
Bu Ratna mendekat, melihat leher Dika yang penuh bentol merah dan sisa-sisa bulu halus yang masih menempel. "Ya ampun Dika! Kamu apakan ulat bulu itu? Kamu ajak diskusi filsafat?"
"Aku... aku cuma mau observasi, Ma... tapi dia malah melakukan agresi militer ke kulitku... Huwaaaa! Sakit Maaa!" Dika merengek sambil berguling-guling di lantai ruang tamu.
Melihat ekspresi Dika yang biasanya sok dewasa dan bicara pakai istilah ilmiah, kini menangis sesenggukan sambil menggaruk pantat karena gatalnya sudah menjalar ke mana-mana, membuat pertahanan Bu Ratna runtuh. Bu Ratna menutup mulutnya, mencoba menahan tawa, tapi bahunya berguncang hebat.
"Aduh sayang... kasihan banget anak Mama yang pintar ini," kata Bu Ratna dengan suara bergetar karena menahan tawa. "Tunggu, Mama ambilkan minyak kayu putih dan bedak."
Saat Bu Ratna kembali, ia melihat Dika sedang mencoba meniup-niup lengannya sendiri dengan kipas angin kecil, wajahnya memelas luar biasa. Bu Ratna tidak kuat lagi. "Pfftt... HAHAHAHA! Dika, Dika... kamu itu baca buku setebal bantal, tapi nggak tahu kalau ulat bulu itu jangan diajak salaman?"
"Mamaaa! Jangan ketawa! Ini darurat medis!" protes Dika sambil sesenggukan, tapi ia sendiri terlihat lucu karena wajahnya kini penuh dengan coretan bedak putih yang dipasang asal-asalan olehnya sendiri.
Bu Ratna tertawa sampai mengeluarkan air mata sambil mengolesi tubuh Dika dengan minyak. "Makanya, Profesor... besok-besok kalau mau observasi, pakai mikroskop saja, jangan pakai kulit sendiri buat kelinci percobaan. Mana kelapa pesanan Mama?"
Dika terdiam sebentar, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kelapanya... masih di pohon, Ma. Tadi ulatnya bilang kalau kelapanya belum matang secara biokimia."
Mendengar alasan ngeles anaknya yang masih sempat-sempatnya pakai istilah keren di tengah penderitaan gatal-gatal, Bu Ratna meledak dalam tawa yang lebih keras lagi. Sore itu, kebun belakang menjadi saksi bisu kegagalan riset sang Profesor Cilik yang harus kalah telak oleh seekor ulat bulu punker. Dika belajar satu hal penting hari itu: Ilmu pengetahuan memang luas, tapi rasa gatal ulat bulu jauh lebih nyata daripada teori manapun di dunia.



0 Response to "Bojil Kekinian yang Jenius Akhirnya Kena Batunya"
Posting Komentar
Pembaca Yang " BAIK " Selalu Meninggalkan " KOMENTAR BIJAK "